Adaptasi Bentuk Atap Arsitektur Nusantara dengan Studi Kasus Rumah Adat Bubungan Tinggi Kalimantan Selatan

Adaptasi produk arsitektur terhadap iklim pastinya memengaruhi berbagai elemen penyusunnya. Tidak terkecuali di Indonesia, meskipun hanya memiliki dua musim saja khas negara tropis, Indonesia terbukti mampu membuat perbedaan gaya dan bentuk antara bangunan satu dengan bangunana yang lain. Contoh gampangnya dapat dilihat dari beragamnya rumah adat tradisional yang ada di negeri ini.

Keanekaragaman ini merupakan satu ciri kekayaan Indonesia. Dengan iklim tropis lembab andalannya, para nenek moyang terdahulu seakan tidak pernah kehilangan akan untuk menyiasati ‘godaan’ alam. Walau hanya untuk sekedar tempat naungan, bukan perlindungann. Namun, seperti inilah konsep arsitektur nusantara sebenarnya.

Salah satu ciri yang paling menonjol akibat iklim ini adalah bentuk atap. Meski Indonesia memiliki iklim tropis, namun tentu tidak semua wilayah di Indonesia mendapatkan paparan matahari yang merata. Terlebih, bagi wilayah yang terlintasi oleh garis khatulistiwa, tentunya, radiasi panas akan lebih terasa dibanding wilayah lain yang tidak dilewati khatulistiwa.

Kondisi tersebut yang akhirnya membuat beragam bentuk atap untuk beragam jenis arsitektur nusantara yang ada. Studi kasusnya, bisa dengan melihat rumah adat tradisional Bubungan Tinggi khas Banjar Provinsi Kalimantan Selatan ini. Selain berbentuk rumah panggung yang membuatnya unik, ada hal lain yang terkesan berbeda dari rumah-rumah biasanya, yakni bentuk atapnya yang menjulang tinggi.

detal-rumah-bubungan-tinggi-banjar

Jika kebanyakan rumah-rumah hanya menggunakan atap pelana dengan posisi segitiga berada di depan. Maka beda halnya dengan rumah Bubungan Tinggi ini, ia menggunakan atap pelana dengan posisi segitiga berada di samping. Lebihnya lagi, sudut kemiringannya begitu ekstrim dibanding atap-atap kebanyakan. Tentunya, ada hal yang melandasi sang arsitek terdahulu berbuat demikian.

Pertama adalah karena Kalimantan Selatan berdekatan dengan Pontianak, Kalimantan Timur, yang merupakan kota yang dilintasi garis khatulistiwa, sehingga suhu udara di sana relatif tinggi. Dengan demikian, otomatis, tekanan udaranya semakin tinggi. Untuk meminimalisir ini, maka dibuatlah bubungan (langit-langit) yang tinggi guna lebih memberikan kesempatan udara untuk tersirkulasi dengan baik.

Selain itu, Kalimantan Selatan merupakan wilayah yang memiliki pegunungan dan hutan hujan yang luas. Oleh karenanya, wajar bila curah hujannya cukup tinggi dengan seringnya frekuensi turun hujan di wilayah-wilayah tertentu. Ini sejalan dengan bentuk atap rumah Bubungan Tinggi. Semakin besar kemiringan atap, maka air hujan yang mengenai atap pun secara otomatis akan cepat pula turun dan tidak cepat merusak penutup atap.

Oleh: M Ridha Tantowi

Incoming search terms:

Comment on “Adaptasi Bentuk Atap Arsitektur Nusantara dengan Studi Kasus Rumah Adat Bubungan Tinggi Kalimantan Selatan”

  1. wah baru tahu kalau atap rumah juga bisa dibuat berdasarkan keadaan suhu udara suatu wilayah. berarti kemungkinan kebanyakan rumah adat di Indonesia dibuat berdasarkan letak demografi wilayah tersebut yah min?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge