Berani Bermimpi Kan?

Sejak duduk di bangku SMP hingga SMA dulu, aroma persaingan gak begitu nampak. Seperti tidak ada hasrat untuk pengen ini dan itu. Bahkan dalam perlombaan saja, tidak jarang Guru yang proaktif mendaftarkan muridnya. Ketika gue ngeliat temen yang punya bakat tertentu dan merekomendasikan sebuah kompetisi, jawabannya beragam namun intinya sama. “Males ikut-ikut begituan,”, “Ribet kayanya,” dan jawaban-jawaban lainnya.

Gue masih ingat ketika sedang browsing di mesin pencarian ketemu dengan sebuah lomba yang diadakan oleh sebuah perusahan multinasional di daerah gue. Niatnya pengen ikut, berhubung hadiahnya gede, namun rupanya persyaratannya haruslah representasi sekolah. Padahal di sekolah gak ada sama sekali woro-woro menyoal ini.

Gak berapa lama, gue datengin guru yang mungkin bertanggung jawab di bidangnya. “Wah iya, ada lomba di xxx, kamu mau daftar?” ujarnya ketika gue tanya perihal lomba tersebut. Dari sini gue sadar kalau mimpi itu harus direncankan sekaligus diwujudkan. Tanpa inisiatif buat nemuin guru ybs, gue ga mungkin dapat menggondol penghargaan di ajang tersebut. Dan mungkin saja hidup sebagai siswa SMA tanpa prestasi.

Contoh Mimpi

Tahun terakhir di SMA, tepatnya menjelang Ujian Nasional (UN), saat itu gue masih ingat betul kalau gue pernah punya daftar 100 mimpi. Sederhananya, ide ini terinspirasi dari seorang mahasiswa IPB, sebut saja Kevin (gue lupa), dari videonya yang berhasil merealisasikan mimpinya satu persatu walau dengan berbagai keterbatasan.

Ada beraneka rupa mimpi, dari mulai mimpi besar untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri, menginjakkan kaki di negara empat musim, mimpi punya barang tertentu, hingga mimpi yang –terkesan konyol– untuk bisa bertemu member JKT48. Semuanya gue tulis dan sampai sekarang masih ada yang selalu menghiasi dinding kamar.

Beda waktu, beda pula probabilitas serta optimisme gue untuk bisa merealisasikan coretan mimpi-mimpi tersebut. Ketika itu, semuanya nampaknya sulit. Karena rata-rata terkendala jarak dan biaya yang terlampau tinggi. Parahnya, gue masih terbelenggu di zona nyaman gue, gak berani mencoba hal-hal baru dan takut akan risikonya.

Selang waktu berlalu, seperti gak pernah direncanakan sebelumnya, satu per satu mimpi yang awalnya hanya –tulisan kaku sarat makna– tadi bisa terlaksana. Bahagia? Pasti. Bagaimana dengan segala keterbatas yang kita punya, kita rupanya masih mewujudkan sesuatu yang orang-orang bilang sulit. Inilah hebatnya mimpi. Gue perlahan bisa melewati batas yang gue bikin sendiri.

Enaknya punya mimpi, ketika fase hidup kita sedang di bawah, kita masih bisa mengengok tujuan lain dari hidup kita. Gak cuman satu atau dua, tapi ada seratus pilihan yang siap memberikan kita api semangat dalam hidup. Berkat mimpi-mimpi di secarik kertas ini pula, gue sadar bahwasanya hidup itu perlu diperjuangkan. Bahwa hidup gak cuman melulu berjenjang di fase lahir, sekolah, kerja,menikah saja. Hidup lebih sempurna dengan mimpi dan usaha akan menjadi kawan sejati mimpi.

Dari seratus daftar mimpi yang pernah gue bikin, tentu gak semunya bisa direalisasikan dalam waktu singkat. Seiring berjalannya waktu, gue juga memikirkan tentang skala prioritas mimpi tersebut. Apakah hanya sekadar kesenangan temporer, atau malah dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap proses realisasi mimpi-mimpi lain. Ini penting untuk sustainability mimpi-mimpi itu sendiri.

Jadwal Belajar Ketika Hendak Ujian USM STIS Jakarta di Kampung Inggris Pare, Kediri

Gagal? Sering. Tapi bukankah manusia memiliki jatah gagal? Selama 22 tahun gue hidup, sudah gak terhitung lagi kira-kira berapa puluh kali gue gagal. Mulai dari gagal karena harus tinggal kelas di sekolah, gagal masuk sekolah favorit, gagal menjadi pemenang olimpiade, gagal masuk PTN, gagal kuliah di luar negeri, dsb. Banyak banget malahan. Saking seringnya gagal gue sampai gak ada perasaan sedih sama sekali hingga sekarang.

Satu dari 100 Mimpi

So far, ada beberapa pencapaian yang sudah dilewati. Dan sebagian yang lain masih dalam progress menuju itu. Alhamdulillah. Memang usaha keras tidak akan mengkhianati. Gak ada ruginya gue sering datang ke theater maupun acaranya JKT48. Hehe.  Sampai jumpa di postingan selanjutnya.

Berani bermimpi kan?

Incoming search terms:

6 opinions on “Berani Bermimpi Kan?”

  1. kok gue jadi feel banget liat list “Handshake JKT48”. hehe…
    bener banget sob, namanya mimpi harus terus kita kejar dan tentunya juga harus di rencanain dangan skala prioritas. Utamakan apa yang menjadi mimpi yang akan membuat kita naiklevel dibanding hanya untuk senang-senang semata. lanjutkan terus bromimpinya tapi jangan ketiduran terlalu lama.

  2. boy, bermimpi itu boleh saja… tapi kita harus punya 1 mimpi saja yang wajib dicapai, dan ane sebut mimpi ini adalah disebut financial freedom, ane yakin 75% mimpi kamu semua bisa di wujudkan dengan financial freedom. Apaan sih itu? well sederhana, ff itu dimana kamu bisa bebas dari masalah keuangan. Mau keluar negeri? beli tiket karena ada duit. Mau handshake? Langsung datang ke jakarta dan borong cd mereka? mau menguasai berbagai ilmu [dengan serius], bayar dan ambil kursus professional yang tentu bayar. Dan masih banyak lagi lainnya yg ujung-ujungnya memang doku, tapi ingat… money cant buy happiness (asumsi mimpi tercapai, kamu bakal bahagia), financial freedom can! (lu bebas dari hutang dan berkecukupan bisa beli apa saja.) Itu yg utama.

    oh iya, kalau mimpi gw sih sederhana dulu… gw mau bekerja mobile sebagai musik producer yang bawa laptop keliling dunia dan dapat penghasilan ribuan dollar dari jualan musik. tapi well… masih jauh. saat ini menghadapi hal yg realistis aja dan mengasah skill dulu.
    Qori recently posted…Mengarang Lagu Akustik Judulnya Menantu IdamanMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge