Mahasiswa Arsitektur ITS 2014

Cerita di Balik Pengumuman SBMPTN

Inilah momen ketika perjuangan belajar mati-matian dipertaruhkan. Hanya dengan sekelebat saja, sebuah laman yang memuat kata selamat dan maaf dapat mengubah jalan hidup kita kelak. Bersyukurlah bagi kalian yang dengan bangganya telah optimistis atas capaiannya saat ujian (9/6) lalu. Namun, tetap berdoalah bagi kalian yang masih harap-harap cemas akan kelulusannya di Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2015 kali ini.

Satu tahun yang lalu, gue termasuk pada kategori yang was-was. Gue sama sekali tidak percaya diri bakalan diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Gue sadar bahwa kerja keras belajar gue dulu masih sangat minim dibandingkan mereka yang sudah berjuang habis-abisan demi pembantaian massal ini. Apalagi, jika dilihat pada beberapa try out SBMPTN di bimbel yang gue ikuti, gue hanya mampu bertengger di pilihan kedua dan ketiga saja.

Alhasil, sebelum datangnya pengumuman SBMPTN gue sudah bersiap akan kemungkinan terburuk. Azzam dan Bang Fajar, dua rekan yang tahu betapa lemesnya gue beberapa hari sebelum hari pengumuma tiba. Bahkan, gue sempat terbaring sakit hingga tiga hari lamanya karena terlalu memikirkan masuk atau tidaknya di PTN.

Sampai, gue akhirnya membuka pandangan untuk tidak hanya berpangku pada hasil SBMPTN saja. Artinya, baik PTN atau PTS adalah sama tanpa beda. Namun, tetap saja haturan doa selalu gue layangkan ke Allah SWT berharap dia mampu menjadikan gue satu saja dari orang-orang yang bahagia ketika hasil SBMTN resmi diumumkan.

Gue berangkat ke Jakarta ditemani dua orang rekan tersebut. Niat awalnya, gue sudah merencanakan untuk berkuliah di Universitas Gunadarma, Depok saja sebagai alternatif perguruan tinggi. Selain karena terdapat jurusan yang gue incar, Gundar juga termasuk salah satu PTS berkualitas di Ibukota Jakarta.

Saat itu tepat dua hari sebelum pengumuman tiba. Tapi gue masih belum menentukan pilihan apakah benar-benar akan berkuliah disana. Sebab, gue juga masih berpikir keras dengan biaya perkuliahan yang terlampau tinggi. Bisa saja, ini akan mejadi penghambat kelangsungan studi gue ke depannya.

Hingga datang hari pengumuman SBMPTN secara serentak, hari yang sungguh menentukan nasib ratusan ribu calon mahasiswa di seluruh Indonesia. Jujur, gue orangnya emang mudah tersulut perasaan. Jadinya bawaannya suka merenung sendiri tanpa alasan yang jelas. Tapi kali ini cukup jelas, apa lagi kalau bukan karena deg-degan menunggu pengumuman SBMPTN.

Untuk menghilangkan grogi, gue diajak Azzam keliling depok dan bogor untuk sekedar ngabuburit dan melepas cemas. Tepat pukul 17.00 WIB yang seharusnya pengumuman SBMPTN sudah bisa diakses, gue masih belum mau melihatnya. Lebih tepatnya, gue masih belum berani.

Gue masih terlalu takut, seakan-akan gue ingin lari jauh dari kenyataan jika memang keberuntungan sedang tidak berpihak. Azzam pun yang notabene sudah kuliah sangat mencemaskan nasib gue saat itu. Terlebih, ia prihatin ngeliat muka gue yang tanpa semangat lagi. Tanpa ekspresi. Pucat pasi.

Kami baru sampai di kediaman Azzam di Depok pada pukul 18.00 WIB. Gue lagi-lagi masih enggan untuk langsung mengakses laman pengumuman. “Shoalt dulu aja akh,” ujar Azzam mengingatkan. Finally, kami pun sholat dan disitu gue berdoa sebisa gue untuk bener-bener bisa dapat yang terbaik sesuai usaha gue. Gue berharap apapun hasilnya, gue akan bisa menerimanya dan dijadikan pelajaran berharga untuk kesekian kalinya.

Gue akhirnya memberankan diri mengakses sbmptn.or.id dan memasukan nomor pendaftaran serta tanggal lahir. Lantas, gue tidak langsung melihat hasilnya melainkan gue men-download terlebih dahulu pdf hasil nasional yang berisikan nama-nama peserta yang lolos. Nah, jadi pertama-tama gue searching dulu di pilihan pertama gue barangkali ada nama gue nyantol disana. Sesampainya halaman akhir, nama gue tetap gak ada! Disini sudah mulai panik karena gue tidak termasuk di 50 mahasiswa yang diterima pada pilihan pertama.

Namun, Alhamdulillah ketika mulai mencari di daftar yang di terima pada pilihan kedua, nama gue tertera dengan jelas disana. Sontak, gue langsung sujud syukur dengan Azzam tetap di samping gue, terharu ceritanya. Perjuangan gue belajar SBMPTN selama hampir tiga bulan lebih di Kampung Inggris, Pare terbayarkan sudah. Meski tidak lolos di pilihan pertama, setidaknya Allah masih menempatkan gue di Jurusan alternatif dan di salah satu kampus terbaik di Negeri ini.

Karenanya, gue percaya atas apa-apa yang kita lakukan sepenuhnya akan berbalik ke diri kita sendiri. Benih yang dulu susah-susah kita tanam dan rawat akan seketika menjadi bernilai untuk kemudian dituai hasilnya. Dengan tidak berhasilnya gue masuk di pilihan pertama, gue pecaya bahwa Allah punya rencananya yang lebih baik tentang kelangsungan hidup gue kelak.

So, apapun hasil yang kalian terimapada SBMPTN 2015 kali ini, mungkin itulah yang sepantasnya kalian dapatkan atas usaha kalian selama ini. Sebab gue percaya, usaha keras itu tidak akan mengkhianati. Tetap semangat! Bagi yang diterima, Selamat! Teruslah berjuang meraih impian lainnya serta jadilah mahasiswa unggul yang dapat kontribusi banyak bagi kelangsungan hidup bangsa yang sedang bobrok ini.

VIVAT! HIDUP ITS HIDUP ITS HIDUP ITS!

 

Muhammad Ridha Tantowi

Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya

Incoming search terms:

5 opinions on “Cerita di Balik Pengumuman SBMPTN”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge