Jejak Kaki Pertama di Benua Biru

Goresan merah di atas selembar kertas putih itu masih terpampang jelas. Gue masih ingat betul bagaimana semangatnya gue membuat seratus mimpi itu sebagai bukti bahwa kelak mimpi-mimpi itu akan tercoret habis. Pertanda bahwa gue berhasil menyelesaikan apa yang gue ingin dan akan lakukan. Gak melulu soal mimpi besar, gue juga masih berkutat dengan mimpi-mimpi kecil nan konyol -yang dimata orang lain- mungkin sama sekali tak berfaedah. Gak apa-apa, toh usaha untuk mencapai itu juga punya kita sendiri.

Baca juga: Berani Bermimpi Kan?

Kali ini, gue masih kembali memutar ingatan bahwasanya tiga tahun yang lalu gue juga punya mimpi besar lain. Kuliah di luar negeri adalah hal yang paling gue idamkan setelah gagal menjadi mahasiswa kedokteran. Gue pikir keluar negeri adalah solusi terbaik setelah gagal kuliah di dalam negeri. Tapi ternyata Allah masih belum mengijinkan gue untuk itu. Dari sekian banyaknya seleksi beasiswa yang gue ikuti, gue terus gagal, gagal, dan gagal.

Baca juga: Kalau Gagal Jadi Mahasiwa, Lantas Harus Ngapain?

Namun ujung-ujungnya, Allah menunjukkan gue jalan lain dengan memberikan hadiah yang luar biasa untuk bisa kuliah di ITS gratis sampai lulus. Tanpa harus membebankan keluarga, seperti halnya jika dulu gue diterima di kedokteran lewat jalur mandiri yang sangat mahal biaya kuliahnya, entah apa jadinya.

Pengorbanan, kecewa, dan rasa ingin menyerah selalu hadir saat menyadari kalau lagi-lagi gue gagal untuk dapat beasiswa kuliah sarjana ke luar negeri. Tapi gue yakin, Allah telah mengatur semuanya dengan gue berkuliah di ITS. Hingga tiba-tiba, di penghujung tahun ketiga perkuliahan gue di ITS, Allah mulai membukakan jalan gue untuk menapakkan kaki di luar negeri.

Baca juga: Pengalaman Kuliah Singkat Gratis Ke Luar Negeri

Jika maret lalu gue bisa ke Hanoi-Vietnam gratis, sekarang gue bisa duduk manis menikmati senja di tepi Sungai Douro, Porto, sebuah kota kecil nan cantik di tepi barat Benua Eropa. Ternyata Allah kembali memberikan apa yang dulu ia janjikan. Bukan hanya kuliah di salah satu negara di Asia seperti yang gue usahakan tiga tahun yang lalu, melainkan di Eropa, benua biru dengan banyak sejarah tersimpan di dalamnya.

Gue bukan mahasiswa dengan IPK tertinggi, bukan pula seorang aktivitis kampus dengan segudang kesibukan, tapi gue bisa membuktikan kalau semua orang bisa memiliki dan mengusahakan mimpinya masing-masing. Gue gak berasal dari keluarga kaya raya, tapi gue bisa kuliah dengan mengusahakan dapat beasiswa. Gue gak bisa minta uang ke orang tua untuk beli barang-barang pribadi, tapi gue bisa mengusahakan untuk kerja dan menghasilkan uang sendiri.

Tercoretnya salah satu mimpi gue ini tidak lantas semuanya berakhir. Masih banyak mimpi lain yang harus gue selesaikan sebelum gue mempertanggung jawabkan semua hal yang gue lakukan di dunia ini. Ini bukan akhir, melainkan awal bagi gue menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Setiap orang itu unik, jadilah seseorang yang berbeda, tak perlu persis menjadi seperti orang hebat tapi tirulah usaha dan kerja kerasnya. Gue bukan seseorang yang taat beribadah, tapi gue percaya di setiap usaha ada doa yang membuatnya semakin nyata. Semoga gue selalu dalam lindungan-Nya.

Salam,

Porto, Portugal

27 September 2017

4 opinions on “Jejak Kaki Pertama di Benua Biru”

  1. so proud of you Owi! pertama kali ketemu lo pas maba ga tau kenapa kayaknya gue yakin lo bukan orang biasa.(mbuh makhluk apa) hahaha
    sampe ketemu di tempat selain Indonesia ya. uda bosen soalnya ketemu sama lo di Indonesia mulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge