Katanya Lebih Enak Kuliah di Luar Negeri

Ketika masih di bangku sekolah menengah, gue ngerasa sekolah adalah sebuah hobi. Tidak ada paksaan untuk belajar, melainkan sebuah kesenangan pribadi. Persis seperti yang dibilang Maudi Ayunda, sosok cantik dan menginspirasi semua orang. Terlebih dengan belajar, gue bisa jadi yang terbaik di kelas. Klimaksnya bukan tentang predikat, tapi materil berupa beasiswa yang lebih gue incar.  Sebab dengan sekolah, gue bisa punya kegiatan, teman, tujuan hidup, dan uang jajan.

Lambat laun, gue ngerasa sekolah bukan lagi yang gue idamkan. Selepas tahun pertama perkuliahan, entah setan apa yang merasuki batin gue, gue ngerasa kalau cara gue belajar udah gak sesuai jalurnya. Seorang calon sarjana yang notabene merupakan sosok dengan capaian kompetensi akademik tertentu seperti sudah kehilangan setengah perjalananya. Males-malesan udah jadi temen akrab sehari-hari. Soal nunda-nunda pekerjaan udah gausah ditanya lagi.

Sudah sebulan lebih gue hidup di Porto, rasa-rasanya kehidupan akademik gue ga semkain membaik. Meskipun bisa dibilang beban tugas di sini ga seberat di Indonesia, tapi tetep aja kalau yang namanya males, tugas tetep keteteran. Dua esai seminggu dengan total tiga ribu kata, atau studio lanskap (yang  walaupun sampai saat ini masih berkutat di konseptual desain), tapi tetep gue anggap tugasnya masih sangat manusiawi. Gak kaya di Indonesia yang beneran kudu begadang siang-malem itupun ga selesai. :’)

So gimana kuliahnya di Porto wi? So far, so good. Kuliah di sini overall seru, temen-temennya baik-baik banget, dosennya juga begitu care sama mahasiswa internasional. Tapi tetep aja yang namanya hidup ga ada yang mulus semulus pahanya member JKT48. Dari empat mata kuliah yang gue ambil di sini, dua berbahasa inggris, dua sisanya dalam bahasa portugis. Gue akuin, kelas berbahasa inggris aja lumayan bikin mikir sih, apalagi portugis, gue kudu kerja dua kali karena harus ngetranslate slide ke bahasa inggris dulu baru dipelajarin.

Seperti yang gue bilang di atas, gue ikut exchange bukan berarti gue termasuk mahasiswa dengan kemampuan akademik mentereng. Yah, kalo gue bisa bilang ini keberuntungan sih. Karena di sini gue ngerasa bego banget, di samping harus menguasai materinya, gue juga dituntut untuk menyampaikannya (tugas, presentasi, dll) dengan baik, which is in different language to be understood by others.

Ngomongin bahasa, jadi inggrisnya bagus dong wi? Enggaak. Masih sama, seperti yang gue bilang kalo gue ini beruntung banget bisa kepilih dapat beasiswa exchange. Bahasa inggris gue gak bagus-bagus banget, karena gue sadar gue masih sering roaming kalo ngomong sama the real bule yang ngomongnya cepet. Belajar wi belajar, hu.

Belum lagi bidang gue di sini beneran beda sama di Indo. Gue lebih banyak kenalan sama tumbuhan, hardscape, art history, sampe ngepelajarin peradaban-peradaban masa lampau seperti mesopotamia dan sekutunya. Padahal di ITS gue ga bersinggungan dengan itu. Jadi gak heran sih kalo di kelas, gue mungkin dipandang jadi anak paling bego. Sering telat ngumpulin tugas, progres lambat, dan lumayan sering salah paham. Hehe. Lagi-lagi, untung dosen dan temen-temennya baik. Ahahaha :’)

Jadi, kalo katanya kuliah di luar negeri itu lebih enak ga sepenuhnya bener. Menurut gue sama aja sih, masing-masing ada kekurangan dan kelebihannya. Tergantung bagaimana kita memaknai setiap prosesnya. Nilai plusnya, bisa jalan-jalan dan dapat segudang pengalaman baru. Mohon doanya semoga bisa makin rajin dan gak males-malesan kuliahnya. Hehe.

6 opinions on “Katanya Lebih Enak Kuliah di Luar Negeri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge