Kejenuhan Yang Memuncak

Sudah kurang lebih empat bulan berada, tinngal di kota ini. Selama itu ada tekad tuk menempatkan diri menjadi mahasiswa seutuhnya. Konon katanya, mereka adalah mahasiswa yang penuh dengan hiruk-pikuk kesibukan kampus. Mahasiswa yang berangkat pagi, pulang dini hari, bahkan hingga menginap sekalipun.

Definisi yang dulu diciptakan di pikiran, rupanya tidak semata bualan. Mereka, mahasiswa, memang benar adanya begitu. Kampus seakan menjadi dunia baru bagi mahasiswa untuk mengeksploitasi dirinya sembari merantau jauh, bagi yang merantau) tanpa takut sedetik pun ada waktu terbuang percuma. Tidak ada jeda.

Menilik kondisi akademik di semester satu tampaknya tidak ada kesukaran yang berarti. Kuliah di Jurusan Arsitektur rupanya sangat menguras waktu, waktu, dan tenaga. Seiring bertambahnya level, ia semakin menjadi-jadi ternyata. Sekarang sudah berada di penghujung semester dua. Materi semakin kompleks, tugas tidak kenal ampun banyaknya, sampai dosen-dosen yang kurang bersahabat.

Dari ranah organisasi, tidak ada perkembangan. Semua berjalan seperti air mengalir. Tujuan utama untuk meraih gelar “Reporter of The Month” pun sudah berhasil didapatkan. Karenanya, cukup hina rasanya diri ini jika kemudian menjadikan wadah yang menaungiku ini hanya sebagai pelarian dari kejenuhan di akademik. Namun beginilah adanya. Semuanya terasa flat. Dibanding dulu sesaat baru resmi menjadi reporter. Semangat itu menggebu-gebu. Kini, saya hanya mampu menjadi kuli.

Kuli, tidak meulu buruk definisinya. Hanya saja ada ketidaknormalan dalam prosesnya hingga saat ini yang salah satunya memicu kejenuhan. Yang itu-itu saja. Masalah itu-itu lagi. Evaluasi itu-itu terus. Semuanya stagnan. Bergerak sekadarnya. Tidak lebih baik dari seekor bekicot.

Pengkaderan. Akhir-akhir ini juga semakin mempersempit waktu. Walau bisa dibilang positif namun faktanya sangat menguras waktu. Tidak jarang mengalami dilema antara kuliah, kerja, atau pengakaderan di saat semuanya bentrok di satu waktu yang sama. Sosialisasi, solidaritas, Serigala, Satu, katanya. Semoga saja.

Sekarang lah, rasa itu kian memuncak. Keadaan akademik yang tidak maksimal, pengkaderan, peoples, works, semuanya. Ingin rasanya lari dari kenyataan, berdiam diri sejenak. Memulihkan diri, hati, menyingkirkan ilusi, mengembalikan energi yang terkuras habis.

JENUH BRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAY!

M Ridha Tantowi
Kamis, 14 Mei 2015
Kos Tercinta

2 opinions on “Kejenuhan Yang Memuncak”

  1. Jadi inget perjuangan adekku yg anak teknik sipil. Tiap hari tidur jam 3-an. Tugasnya… beh… jangan tanya. Kertas-kertas di mana-mana. Tapi ya kok masih sempet jadi pengurus keluarga mahasiswa. Itu yang bikin heran.

  2. wah nemu tulisannya kating hehe. salam kenal kak, semangat kuliah kaaak semoga akhirnya bisa nemuin sesutau biar ngga jenuh kuliahnya.
    makasi kaak, tulisan2 kakak bisa memberi bayangan ke maba seperti saya akan dunia perkampusan di ITS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.