Keluh, Jenuh

Putaran roda sepeda ini semakin jauh semakin cepat rasanya. Kaki yang yang mengayuh pedal tak lagi merasakan adanya energy terbuang. Melintasi jalan, gang, hingga harus menelusup di jalan sempit dimana orang-orang sedang bertransaksi jual-beli.

Tetesan demi tetesan air jatuh membasahi sekujur tubuh. Cuaca sedang tidak bersahabat. Tadinya hanya gemuruh ringan saja. Namun tiba-tiba angin berhembus begitu kencang hingga mampu menjatuhkan dedaun, pun terhadap langit yang mulai menumpahkan sedikit demi sedikit karunianya.

Dengan memikul tas unggung yang lumayan berat, saya harus pula menenteng sebuah totebag berisikan sketchbook dan peralatan gambar. Sepanjang perjalanan pulang, saya memikirkan akan nikmatnya jikalau saya sedang tidak mengalami ‘ini’.

Rasa yang saya yakin tiap orang pasti memiliki. Sebuah perandaian yang sangat gampang tuk diucapkan, tapi sulit untuk direalisasikan. Eh bukan! Sebenarnya yang membuat sulit itu adalah diri kita sendiri. Sikap manusia yang selalu ingin memiliki yang lebih dari apa yang dia miliki saat ini.

Saya membayangkan, betapa enaknya jika usai penatnya menjalani aktivitas di kampus saya bisa langsung menuju kamar kos untuk beristirahat. Sekedar melepaskan penat. Tanpa harus mengayuh sepasang pedal yang selama ini menjadi teman baik saya. Tanpa harus menghabiskan waktu setidaknya 30 menit untuk bisa sampai di tempat kos.

Labil memang. Ketika saya menengok ke ‘atas’ sebentar saja. Ada rasa layaknya sebuah angan yang tak tercapai. Sebaliknya, sangat sulit untuk saya melihat barang sejenak ke ‘bawah’. Entah mengapa, seperti ada yang membelenggu. Mungkin ini ada kaitannya dengan lingkungan.

Hidup di sebuah kota metropolitan layaknya Surabaya membuat orang-orangnya yang tinggal tak lagi harus berpijak pada norma hidup sederhana. Di samping itu, ada pula perihal tuntutan zaman dan faktor efisiensi waktu.
Poin saya di sini bukanlah soal menyoal kepemilikan. Terkadang menyelinap rasa ‘jenuh’ akan kehidupan yang sedang saya jalani sekarang. Jenuh dengan segala rutinitas yang ada. Berangkat pagi hari dengan kondisi terburu-buru. Pulang di malam hari saat mentari sudah lebih dulu meredupkan sinarnya. Yang ada hanya lelah terasa.

Adakah jalan untuk melarikan diri barang sejenak? Saya ingin bisa terbebas. Puas. Taka da lagi pembatas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.