Kenalkan Indonesia sampai Portugal

Sudah dua bulan lamanya saya tinggal di Porto, Portugal, sebuah kota kecil nan eksotis di sisi paling barat Benua Eropa. Hingga pada Rabu (20/11) lalu adalah pengalaman pertama kalinya saya menapakkan kaki di salah satu sekolah umum di sini.

Sama halnya seperti sekolah negeri pada umumnya di Indonesia, Escola Secundária Carolina Michaëlis (Sekolah Menengah Pertama) ramai dengan anak-anak hingga remaja beragam usia.

Namun ada pemandangan yang paling membedakan dengan sekolah di Indonesia di mana siswa-siswi di Portugal tidak memiliki seragam khusus layaknya di Indonesia. Semua tampak sederhana dengan pakaian masing-masing, sembari sesekali melemparkan senyum manis tatkala saya melewati gerbang sekolah. Seolah-olah mereka sedang menyaksikan pemandangan langka dengan kedatangan ‘bule’ dari asia dengan warna kulit kecoklatan khasnya.

Di sekolah ini, selama satu setengah jam, saya berkesempatan untuk mengajar di kelas Bahasa inggris dengan cara sharing tentang Indonesia. Program yang digagas oleh University of Porto, tempat saya kuliah dan Porto Municipal (Pemerintah Lokal, red) ini, bertajuk Classes without Frontiers. Sebuah sesi di mana mahasiswa international diajak untuk berbagi pengalaman tentang banyak hal di sekolah-sekolah lokal.

Saya telah mempersiapkan betul materi apa saja yang akan saya sampaikan. Peta Indonesia, bendera, mata uang, iklim, budaya, makanan khas, hingga tentang kebiasaan orang Indonesia yang makan nasi tiga kali sehari yang membuat mereka takjub sekaligus heran.

Awalnya saya agak sedikit ragu apakah kelas saya nanti akan menarik atau malah membosankan. Tidak memiliki pengalaman sebagai guru, juga cukup menyiutkan nyali saya. Belum lagi bayang-bayang bahwa mereka tidak akan tertarik dengan Indonesia masih bersarang di kepala sesaat sebelum kelas dimulai.

Namun diluar dugaan saya, respons siswa-siswi begitu luar biasa. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut siswa-siswi berusia 14 tahun. Mulai dari pertanyaan standar seperti biaya hidup di Indonesia, sampai ada saja yang penasaran bagaimana namanya terdengar jika diucapkan dalam bahasa Indonesia.

Selain siswa-siswi, turut berpartisipasi pula guru Bahasa inggris di sekolah ini. Karena saya mengajar dalam Bahasa inggris, dari total 25 anak, tidak semua siswa-siswi dapat mengerti sepenuhnya apa yang saya bicarakan. Sehingga guru menjadi perantara yang baik untuk mengatasi kendala bahasa tersebut.

Kendati Portugal Dan Indonesia terpaut jarak yang sangat jauh, namun menengok sejarah beberapa puluh tahun ke belakang, ada hubungan yang erat di antara keduanya. Bahkan perbendaharaan kata dalam Bahasa Indonesia pun banyak yang menyerap dari Bahasa Portugis. Barangkali inilah yang membuat saya dan siswa-siswi ini seperti memiliki hubungan yang akrab.

Tak hanya soal kesempatan mengajar, tapi kegiatan ini juga menjadi momen bagi saya untuk turut mengenalkan beragamnya budaya Indonesia dengan citra positif. Sebab, citra Indonesia di luar negeri juga turut diciptakan oleh para diaspora seperti saya. Kalau bukan Kita siapa lagi yang akan membanggakan dan mengenalkan Indonesia?

Tulisan ini dimuat di laman Jawa Pos edisi Selasa, (28/11).

https://www.pressreader.com/indonesia/jawa-pos/20171128/282282435613828

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge