Kisah Kasih Libur Lebaran Sang Air Terjun, Seonggok Goa, dan Seupil Kali

Libur lebaran identik dengan jalan-jalan. Paling nggak itu yang lumrah di masyarakat Indonesia. Sampai biasanya bela-belain ambil cuti kerja biar libur lebarannya tambah lama. Di keluarga gue sendiri dari tahun ke tahun, momen kumpul komplit tujuh bersaudara ditambah pasukannya (anak-anak) hanya terjadi di hari lebaran pertama. Itu pun sering ga penuh satu hari. Kalau gak pagi hari (kalo nginep) trus pulang sorenya, atau nggak sebaliknya, paginya ga ada sorenya baru dateng. Begitulah terus. Maklum, punya anak banyak dan semuanya kerja sama orang ya begini risikonya.

Baca Juga: Pesona LOKSADO, Tempat Liburan Menarik Anda!

Kalau lebaran tahun lalu, keluarga gue, gak lengkap sih, punya waktu luang buat jalan-jalan ke luar kota. Mencicipi pantai ter-mainstream di Kalimantan selatan yakni pantai takisung. Wkwk. Gue pernah menuliskan ceritanya juga disini. Walau ga bagus-bagus amat, kotor malahan, tapi tetep dapet quality-time bareng keluarganya.

Baca Juga: Ketika Bandung dan Ciater Memanggil

Nah lebaran kali ini, berhubung sudah pindah kampung halaman dan juga liburnya cuman dua hari jadi gak bisa jalan jauh-jauh kayak dulu. Padahal ponakan gue yang banyak bingit jumlahnya ini pada merengek semua minta jalan-jalan ke banjar (tau lah, mintanya ke mall yang cuman satu-satunya di banjar) haha. Tapi ya gimana, lah bapak-ibunya ga ada libur.  Akhirnya diputuskanlah buat jalan-jalan yang deket aja dari rumah. Katanya sih katanya, ada air terjun gitu, gue pun ikut excited jadinya.

Selasa, sehari selepas lebaran, dari pagi-pagi banget orang-orang rumah udah pada sibuk nyiapin barang-barang yang mau dibawa. Termasuk makanan sekarung di rumah pun dibawa. Tidak lupa, charge baterai hp, powerbank, pakaian ganti, alat mandi, sampai kamera. Gue gamau kalah. Meski mata gue masih berat banget, gue tetep berinisiatif bawa persenjataan gue juga.

foto-pemandangan-wisata-goa-liang-tapah-tanjung-kalsel-muara-uya

Di perjalanan. Angin berhembus kencang menambah dinginnya pagi itu. Gue yang hanya tulang diselimuti kulit ini hanya bisa menggigil kedinginan sambil dibayang-bayangi air terjun nan hangat akan segera mengguyur tubuh gue. Menghibur hati lah batin gue. Karena gue paling ga tahan sama yang namanya dingin, mending panas. Eh tapi gapapa juga dingin, asal ada aja yang meluk biar anget. Hehe. *ditoyor netizen dikira mesum*

Baca Juga: Pantai Takisung, Destinasi Wisata Populer di Kalimantan Selatan

Jadi dari kota gue Tanjung ke destinasinya cuma memakan kurang lebih satu jam perjalanan pake mobil. Di sepanjang perjalanan, kanan kiri semuanya hutan dan sawah gitu. Hanya ada beberapa rumah dan pertokoan. Sinyal juga susah banget disin. Jangankan 4G, edge aja udah beruntung. Selain itu medannya mayan sulit, karena ga semuanya jalannya bagus. Ada kalanya jalannya ga di aspal alias cuman bebatuan aja. Ditambah lebar jalan yang ga lebih dari 2 meter. Sempit banget. Belum kalau ada mobil yang saling berlawanan, bakal macet gilak.

wisata-goa-liang-tapah-tanjung-kalsel foto-wisata-goa-liang-tapah-tanjung-kalsel-muara-uyawisata-goa-liang-tapah-tanjung-kalsel-muara-uya

Ga lama, akhirnya sampai juga. Gue perhatiin ada kayak papan nama wisatanya gitu. Tertulis “Goa Liang Tapah“. Jadi Lah terus air terjun nya mane batin gue. Dari titik ini, kita masih butuh berjalan kaki menyusuri hutan karet yang menjulang tinggi. Lumayan jauh sekitar 300-400 meter gitu. Medan jalannya pun gokil. Semacam ada jembatan pemicu adrenalin gitu, kubangan lumpur, sampai gangguan makhluk astral sejenis semut, lebah dan ehem monyet. Bocah-bocah gue pun pada ngeluh kecapean. Belum lagi kudu bawa barang seabrek. Hm.

foto-pemandangan-wisata-goa-liang-tapah-tanjung-kalsel-muara-uya-mandi

Sesampainya di lokasi yang dijanjikan di depan tadi, gue terdiam sejenak. “Is this real?” Dari beraneka jenis bayang-bayang semu tadi, yang gue dapet Cuma seonggok goa ga jelas dalamnya apaan dan air yang diam yang gak lebih dari selutut kaki gue. Air terjun yang djanjikan pun ga ada batang hidungnya. Entah gua yang apes atau memang ekspektasi gue yang terlalu tinggi.  Ga ada yang mengesankan selain para pedagang disana yang mematok tarif makanannya yang terlalu tinggi.

foto-pemandangan-wisata-goa-liang-tapah-tanjung-kalsel-muara-uya-jembatan wisata-goa-liang-tapah-tanjung-kalsel-muara-uya-jembatan

Bahkan disini ketemu anak yang awaknya gue ga ngeh nih anak maunya apaan. Seketika gue foto-foto objek disana, eh dia deketin. “Aaa hmm djsdhs bedua,” ujarnya ngomong kek kumur-kumur gitu ke gue. “Hah? Paan dah,” jawab gue keheranan setengah mati. Dia akhirnya nunjuk kamera gue dan dirinya. “Foto bedua tuh win,” timpal kakak gue sembari tertawa kecil. Oh, gue bergumam paham. Kayanya gue tahu, dia minta foto bareng jir. Tapi gue gamau, dikira artis kali gue. Gue cuman motoin dia aja sendiri dan lantas pergi berlalu.

“Dia nggak sama kayak anak lainnya win,” bisik kakak gue pelan. Rupanya ini anak berkebutuhan khusus, yang memang agak-agak. Apes ya. Akhirnya setelah istirahat bentar, gue dan keluarga memutuskan pindah ke destinasi lain.

wisata-air-tanjung-tabalong-kalsel wisata-pemandian-air-kalsel

Masih dengan dengan tema yang sama yakni air. Hanya butuh waktu tempuh sekitar 15 menit dari lokasi sebelumnya. Orang-orang menyebutnya Pintu Air Dam Muara Uya. Memang kayak ga ada identitas sama sekali tempat ini. Sekilas tampak kayak kali atau sungai di kampung-kampung tapi gak lebih kayak upil. Wkwk, jahat banget! Gimana nggak kalo airnya dangkal banget, tapi airnya mayan jernih sih, cocok buat anak-anak (sadar diri wi ). Daaan tetep, airnya ga dalam dan air terjunnya pun gada. Duh, males gue menjadi-jadi berujung gajadi mandi dan memilih duduk-duduk aja jadi tukang foto. Tapi gue bisa meyakinkan kalau ini setidaknya lebih baik dari tempat ‘wisata’ sebelumnya.

Kesimpulan

Jangan berekspektasi tinggi terhadap sesuatu! Karena lagi-lagi gue pengen bilang bahwa perjalanan ga bisa mulus semulus pahanya member JKT48. Bahwa akan selalu ada halangan dan rintangan di setiap momennya. Maka, bersiaplah untuk kejutan-kejutan tak terduga! Haha intinya perjalanan ini adalah bukan mengenai keren atau nggaknya destinasinya. Tapi tentang bagaimana memanfaatkan waktu sebaik mugkin untuk keluarga dan kerabat dekat. Karena pertemuan tak selalu dekat, tapi perpisahan dengan kenangan pasti akan selalu diingat.

*NB Sebenarnya ada video perjalanannya, cuman masih belum selesai diedit, tunggu yak! :cheers:

Incoming search terms:

5 opinions on “Kisah Kasih Libur Lebaran Sang Air Terjun, Seonggok Goa, dan Seupil Kali”

  1. Namanya goa tapi gak ada goa, air terjun tapi gak ada juga. Wah, pantas kecewa,

    Dulu, tahun 2007, ada rumah makan ikan bakar yang enak di samping kantor grapari telkomsel Tanjung. Saya beberapa kali ke Tanjung untuk urusan gawe.
    Alris recently posted…Tak Jadi Beli KambingMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge