Kuliah Gratis di Eropa dengan Beasiswa Erasmus

Novel terakhir yang berhasil gue baca sampai habis adalah “Penumpang Gelap” karya Alijullah Hasan Jusuf, seorang yang dulunya bukan siapa-siapa, tapi berhasil melanglang buana sampai ke benua eropa. Cerita nyata beliau ini berhasil dikemas dengan apik menjadi bacaan yang menarik untuk menggugah semangat para pengejar mimpi.

Sama seperti halnya sewaktu dulu gue baru kenal dengan Ahmad Fuadi, sang penulis kondang yang sampai sekarang benar-benar menghipnotis gue untuk selalu membaca semua karyanya. Sama-sama perantau, namun berbeda jalan dan zona waktu. Manusia memang punya jalan hidup dan zona waktunya masing-masing bukan?

Kendati masih berbicara seputaran mimpi, artikel gue sebelumnya di sini mungkin masih belum bisa menjawab beberapa pertanyaan temen-temen. Gimana sebenernya gue bisa sampai menginjakkan kaki di Eropa. Jual ginjalkah? atau sekadar menggadaikan sertifikat tanah keluarga ke bank? atau malah sekalian melamar jadi relawan ISIS? Tenang, gue gak senekat dan seberani itu. Ada banyak cara rasional dan logis untuk mewujudkan mimpi. Masih ingatkan pepatah bahwa ada banyak jalan menuju roma?

Nah, begitu pula bagi kalian yang beneran pengin merantau dan merasakan atmosfer belajar di luar negeri seperti apa, ada banyak banget beasiswa yang bisa dicoba, salah satunya adalah Erasmus+ (dulu namanya Erasmus Mundus). Erasmus menawarkan berbagai kesempatan beasiswa untuk belajar di negara-negara Eropa. Lebih gampangnya, kita dari negara-negara berkembang (Asia Tenggara khususnya) akan didanai dengan penuh oleh Uni Eropa untuk belajar di sana.

Erasmus sendiri menawarkan beasiswa untuk berbagai macam jenjang pendidikan, seperti undergraduate, master, dan doctoral, baik full degree maupun mobility seperti yang sedang gue jalanin sekarang. Nah untuk jangka waktu beasiswanya pun akan bergantung terhadap jenjang yang dipilih. Kalau mobility, bisa satu semester atau dua semester. Untuk jenjang Master antara satu hingga dua tahun. Sedangkan doktoral biasanya selesai dalam kurun waktu empat tahun.

Jadi beasiswa Erasmus ini sebenarnya menarik banget, apalagi kalau berhasil keterima di Erasmus Action 1. Kita bakal bisa kuliah gratis sampai di tiga negara berbeda sekaligus. Jadi setiap semesternya kita akan switch ke universitas berbeda. Sekaligus menjalani hidup, teman-teman baru, dan beradaptasi di lingkungan baru lagi. Kalau program gue ini yang Erasmus Action 2 yang hanya bisa memilih satu negara tujuan. Still, tetep seru kok!

Beneran Gratis?

Yeah. Semua biaya yang diperlukan seperti pembuatan VISA, tiket pesawat, tempat tinggal, biaya kuliah, biaya hidup, semuanya ditanggung. Bahkan kita dibelikan asuransi juga untuk menjamin kehidupan kita selama berada di Eropa. Jadi bener-bener gratis. Kalau kata dosen gue, kuliah pake beasiswa erasmus itu ibaratnya kuliah yang digaji. Kenapa? Karena beasiswanya gede banget melebihi gaji seorang freshgraduate malahan hehe. Bisa banget lah sisanya buat eurotrip atau buat bantu keluarga di Indonesia.

Oh ya. Sepengetahuan gue juga, jarang banget erasmus ngasih beasiswa partial. Entah sih, mungkin ada tapi hanya pada kasus-kasus tertentu semisal buat applicant yang rankingnya hanya sampai di reserved list, tapi tetep ingin berangkat, jadi enggak kebagian pendanaan.

Gimana Cara Daftarnya?

Gue gak mau bahas urusan teknis di sini, karena semua informasinya udah ada di internet sekarang. Website official erasmus pun ada untuk menjawab semua pertanyaan teknis itu. Nah kalian bisa temuin ada banyak banget program di sana sesuai bidang studi yang akan dituju. Proses seleksi dan jadwal pendaftaran juga biasanya dilampirkan.

Tips Lolos Beasiswa?

Pertanyaan yang jawabannya lumayan abstrak. Intinya kalau mau diterima oleh pemberi beasiswa kita harus bisa menjual diri kita sebaik mungkin. Pembeli akan memilih buah yang segar dibanding buah yang biasa-biasa aja, terlebih busuk. Gue selalu percaya kalau kapabilitas diri itu bisa ditingkatkan. Akan selalu ada wadah buat kita ngembangin diri dan menjadi lebih baik lagi.

Salah satu hal paling krusial adalah tentang kemampuan bahasa asing. Jujur, gue baru kenal bahasa inggris itu sejak masuk SMP yang padahal temen-temen gue yang lain udah pada belajar bahasa inggris sejak SD. Gue ngerasa paling bodoh saat itu, ga ngerti sama sekali. Tapi gue ngerasa harus bisa, gimana pun caranya harus bisa dan lulus mata pelajaran itu. Sampai akhirnya gue beneran bisa.

Ada lagi tentang manajemen diri dan jejaring sosial. Menjadi seorang introvert itu gak gampang, seriously. Cara menempatkan diri di sebuah momen juga menjadi perhatian serius. Termasuk berhadapan dengan orang-orang dengan beragam latar belakang adalah tantangan sekaligus pembelajaran buat gue. Di ITS Online lah gue menemukan keberanian untuk menghadapi ‘kegelisahan’ tersebut.

Hampir setiap hari, dengan status sebagai seorang reporter, gue diharuskan bertemu dengan rektor, dekan, CEO, dosen, mahasiswa, hingga berbagai tamu kehormatan negara lain. Dari sini pula gue belajar gimana caranya menempatkan diri. Sama seperti halnya bagaimana kita menempatkan diri sebagai seorang yang mengharapkan beasiswa kepada pemberi beasiswa, terlebih saat sesi wawancara.

Salah itu wajar, tapi kesalahan yang berulang itu namanya gak belajar. Gue pernah dimarahi narasumber, but it was fine. Gue udah belajar dari kesalahan. Takut gagal? Gue udah gagal puluhan kali dan gue masih percaya kalau manusia itu punya jatah gagalnya masing-masing. Get used to it!

2 opinions on “Kuliah Gratis di Eropa dengan Beasiswa Erasmus”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge