Lembar Baru

Gerimis di pagi ini seakan penanda lembar baru akan segera dimulai. Masih redup. Sang mentari seperti masih sungkan mengeluarkan sinarnya. Diliputi kabut awan. Tidak juga dingin. Yang ada hanya gemercik suara tetesan air yang jatuh ke tanah. Bau tanah.

Ini, bukan hari spesial. Hanya saja, ada secercah jalan terbuka hari ini. Jalan saya dalam menata mimpi dan cita-cita saya empat tahun kedepan. Hari dimana semuanya akan menjadi baru bagi saya. Dengan harapan baru akan bisa selalu lebih maju.

Meski sudah melewati satu semester perkuliahan. Saya bahkan masih merasa seperti anak ingusan yang belum mengerti jalan hidup saya kelak di Jurusan ini. Yang saya tahu adalah bagaimana menciptakan estetika, kepekaan, komposisi, dan hal dasar lain yang sering ditekankan oleh para dosen disini.

Itu pun ‘tahu’. Terkadang begitu sulit untuk menyamakan selera dan tuntutan dosen. Seperti laiknya seorang yang sedang memilih makanan di restoran. Si waitress menyarankan untuk memilih Bread and Vegetarian Dhall Sauce. Tapi karena si pengunjung adalah orang indonesia. Ia memilih memakan nasi. Lalu diorderlah menu diluar rekomendasi waitress. Curried Seafood Fried Rice.

Selang menunggu beberapa lama. Makanan pun datang. Suapan pertama, kedua, ketiga. Rasanya biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Hingga pengunjung tersebut akhirnya keluar tanpa menghabiskan pesanannya.

Rasa, selera dan lidah tiap-tiap orang memang berbeda. Adakala satu irama. Tapi tidak jarang malah bersebrangan. Kejadian ini mirip seperti yang saya alami. Mungkin bukan hanya saya, tapi kebanyakan mahasiswa yang lain juga ikut mengalami.

Ketika kita mengajukan hasil pekerjaa kita ke hadapan dosen. Beragam ekspresi dapat ditebak hanya dengan melihat raut wajahnya. Beruntungah kalau pekerjaan kita sesuai ekspektasi mereka. Bagaimana jika sebaliknya?

Selanjutnya kita harus memutar otak untuk menautkan saran-saran dari dosen yang berbeda dengan harapan hasil akhir menjadi maksimal. Tanpa celah. Tanpa kritik.

Kelak menjadi seorang Arsitek tidak pernah terbayangkan oleh saya. Bahkan untuk menjadi bagian dari mahasiswa fakultas teknik saja tidak. Entahlah. Tuhan telah menggiring saya sampai sejauh ini. Mengajarkan saya merantau. Menuntun saya yang buta ini. Sendiri.

Selama enam bulan itu pula saya banyak belajar. Mengenal teman. Pun, arti dari perjuangan. Ketiadaan yang sedari dulu ada. Terisi dan mulai berpendar.

M Ridha Tantowi
Jl.Keputih Gang 3 No.30, Sukolilo, Surabaya
Pukul 05.00 8 Februari 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.