Membangun Citra Positif Indonesia

“Hey, apa kabar?” sapanya singkat lewat fitur direct message Instagram. Tidak wajar memang, tapi inilah satu-satunya cara agar kami tetap bisa berkomunikasi. “Sejauh ini semuanya baik-baik saja,” jawabku sekenanya karena aku tahu ia akan menghujaniku belasan pertanyaan lain jika jawabanku aneh-aneh.

Sekarang, dalam benakku aku tidak ingin membicarakan hal-hal berat lagi. Mengapa tidak mencoba mengajak ia keluar dan jalan-jalan menikmati matahari sendu di musim semi ini? Atau saling membicarakan mimpi masing-masing di pojokan cafe klasik khas portugal dengan ditemani sepotong pastel de nata. Tapi kenyataannya itu tak mudah. Sulit bagi kita berdua mencari waktu yang bisa menyenangkan kedua belah pihak.

Kita tidak lantas bermusuhan hanya karena perbedaan waktu senggang. Tidak lantas berburuk sangka, melainkan saling dukung dan mendoakan. Kita hanya sedang belajar menghargai satu sama lain. Ia yang sibuk dengan urusannya, aku yang juga sibuk dengan urusanku. Kita tetap berkomunikasi dengan tetap mengusung nilai kebermanfaatan.

“Aku sudah memutuskan akan berhenti bersuara,” kataku lirih. “Maksudmu?”, “Tentang apa yang selama ini kita bicarakan. Tentang ketidak adilan hidup, tuntutan lingkungan, dan menyoal ketidakbebasan. Sekedar cari aman mungkin,” timpalku dengan nada tidak yakin.

Entah mengapa, belakangan ini, aku selalu dibuat mengernyitkan alis tanda tak percaya, kesal, sekaligus prihatin. Orang-orang tak lagi mengedepankan rasa hormat dalam mengutarakan isi kepala mereka. “Bebas, seolah tanpa batasan, seolah tidak pernah diajari sopan santun saja,” gerutuku.

Banyak yang berburuk sangka, lebih banyak lagi yang tidak memiliki etika. Aku paham bagaimana sakitnya dicemooh dengan kata-kata tidak senonoh. Tidak ada yang ingin dibilang bodoh, bego, apalagi anak haram. Tidak juga dibilang kurusan, sedang jerawatan, atau diterka-terka sedang tidak bahagia. Belum lagi pertanyaan yang diklaim candaan namun sebenarnya tidak pantas dilontarkan.

Aku rasa semua orang harus paham bagaimana kata-kata yang mereka anggap tidak menyinggung tersebut adalah ancaman yang serius bagi Indonesia. Setidaknya jika tidak bisa ikut membangun Indonesia, maka jangan ikut membuat citra buruk terhadap Indonesia.

“Sesulit itukah untuk belajar berbicara dengan baik dan benar?” keluhku padanya yang sedari tadi hanya berbaring sambil menatap langit-langit berwarna putih. Satu hal yang pasti, perubahan tidak akan dimulai tanpa adanya langkah kecil dari setiap individu. Mungkin sekarang aku memilih diam, namun tidak berarti aku akan diam selamanya.

“Terkadang kita memang harus menunggu, dan inilah saatnya, ” imbuhnya.


(Akhir Part 3)

4 opinions on “Membangun Citra Positif Indonesia”

  1. Setujuu …
    Mari kita semua mrmbiasakan diri berucap dan mengomentari dengan kata-kata yang tidak menyinggung perasaan orang lain.
    Dipilah dulu kata-katanya, sebelum diungkapkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge