Pertama Kali Pakai Lensa Kontak (Soflens)

Terhitung sejak November 2017, gue udah gak pakai kacamata lagi. Kalaupun ada foto gue yang keliatan pakai kacamata, itu adalah foto lama. Alasannya sederhana sebenarnya, kacamata yang gue beli di Surabaya itu udah gak nyaman lagi dipakai. Baru aja gue pakai, eh udah melorot aja. Padahal kacamata itu umurnya masih belum dua tahun lho. Maklum sih, kacamata seharga Rp.200.000,- gak bisa berharap banyak. Hehe.

Guna mengembalikan penglihatan gue seperti semula, mulailah gue kepikiran buat beli kacamata baru di Porto. Mulailah gue blusukan ke beberapa optik deket apartemen. Tapi, gue akhirnya pulang dengan tangan hampa. Kacamata yang gue idam-idamkan ternyata harganya setara Laptop ASUS yang gue pakai (sekitar 400 euro). Singkatnya, harga kacamata di Portugal jauh lebih mahal dibanding di Indonesia. #Sedih.

Pulang dari optik, sepanjang jalan menuju apartemen gue kepikiran kenapa gak make soflens aja? Ide bagus pikir gue. Tapi jujur aja gue takut banget soalnya belum pernah pakai soflens sama sekali seumur hidup gue. Ngebayangin aja rasanya ngeri, gimana kalau gue yang ngelakuin.

Kebetulan saat itu januari kalau gak salah, Mbak Martha, temen orang sesama Indonesia lagi pulang kampung. Akhirnya gue nitiplah ke dia buat ngebeliin soflens minus. Kenapa harus di Indonesia? Pertama harganya jauh lebih murah, kedua gue belum punya cukup ilmu buat memilah mana soflens yang bagus. Hehe.

Awal februari, Mbak Martha udah sampai Porto lagi. Dan taraaa… Beginilah kira-kira penampakkan soflens seharga Rp.80.000,-. Warna aslinya coklat berpola gitu, tapi dulu gue kasih filter hitam putih di instagram biar ga ada netizen yang protes ahaha. Tahu sendiri lah, gimana pencicilannya netizen Indonesia.

Soflens pertama gue, dan lepas kacamata

Gimana rasanya pertama kali pakai soflens?

Takut banget sih. Hari pertama diajarin Mbak Martha cara pasang dan lepas soflensnya. Tapi susah banget. Gue butuh setengah jam buat masang pertama kali. Karena mata gue terlalu sensitif sama setuhan benda asing. Belum lagi cerita soflensnya jatuh ke lantai berkali-kali. Sudah gak asing lagi.

Seiring berjalannya waktu, gue mulai terbiasa pakai soflens. Bahkan pas ke Paris pun, gue pake soflens, dan enak sih rasanya. Mata beneran jernih completely, gak kaya pakai kacamata yang sekelilingnya dibatasi frame.

 

Penampakkan mata gue pakai soflens warna coklat

Hari-hari gue berjalan dengan mulus. Sampai suatu ketika lensa gue ini robek. Hiks. Kejadiannya sekitar dua minggu yang lalu pas gue mau lepas soflens yang lagi gue pakai. Sepertinya karena gue terlalu keras pas nariknya, padahal kuku gue saat itu lagi pendek.

Hingga akhirnya gue beli soflens ini di optik sekitar apartemen.

Soflens transparan untuk mata minus gue

Gue sebenernya udah berjuang keliling beberapa optik di sini buat nyari soflens minus yang berwarna. Tapi hasilnya nihil. Mereka hanya menjual soflens berwarna tapi yang netral atau buat fashion aja. Jujur pas pakai soflens ini, gue ngerasa aneh sih awalnya. Mungkin karena beda ketebalan, diameter, dan juga kadar airnya. Jadi soflens yang di atas itu buat penggunaan harian, sekali pakai langsung buang.

Harganya bisa dibilang lumayaan, ehm lumayan mahal. Jadi gue dapet 15 pasang itu seharga 24 euro atau Rp.400.000. Yah, mau gimana lagi, daripada beli kacamata kan ya. :’)

So far, gue menikmati sensasi pakai soflens ini, tapi emang kalau makenya terlalu lama, mata rasanya berat dan pedih banget. Gue pernah make selama 16 jam nonstop dan itu ga enak banget. Karena gue saat itu lagi di luar dan banyak kegiatan.

Tertarik buat pakai soflens/lensa kontak?

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.