Perumahan, Permukiman, dan Perkotaan dalam Perspektif Arsitektural

Kebutuhan akan hunian mutlak menjadi suatu hal pokok bagi tiap-tiap orang. Sebagai suatu objek yang masif diperlukan, rumah kemudian bertransformasi menjadi unsur yang kompleks. Kehadirannya dapat dilihat dari berbagai sudut pandang yang tidak melulu mengenai kebutuhan yang kasat mata semata, lebih dari itu. Bahkan contoh sempitnya saja dari segi arsitektur yang memberikan peluang tuk menimbulkan kesan positif dan negatif pada hunian. Lagi-lagi, jika ditilik lebih jauh lagi, efek negatif disini tidak sekadar tampilan fisik yang dapat dilihat. Melainkan berupa gangguan sosial, kesehatan, polemik ekonomi, hingga kekisruhan jiwa terhadap para penghuninya.

Sumber: Google
Sumber: Google

Dalam sejarah perkembangan perumahan tempo dulu tercatat bahwa ada banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan orang-orang dalam interaksinya dengan hunian. Kondisi lingkungan, sosial, budaya, sumber daya alam (SDA), orientasi, hanyalah segelintir dari apa-apa yang menjadi tolak ukur bagaimana hunian itu berdiri dan berperan. Hingga kemudian akan tercipta segenap solusi yang membawa perubahan masif di masa-masa setelahnya.

Dari makin kondusif dan berkembangnya perumahan, kemudian mucul sistem perkotaan yang mencakup satu kesatuan dari kehidupan yang lebih modern. Dengan tata kelola yang diatur sedemikina rupa, perkotaan menjadi suatu kesatuan yang kompleks untuk skala regional. Pola penyebaran elemen-elemen kotanya pun terdapat beragam hingga muncul berbagai persepsi tentang indikator keberhasilan atau kesuksesan sebuah kota. Dimana kota bisa menjadi ‘tumbal’ dalam mengekspos potensi daerah tersebut. Namun, kecenderungan terjadinya ketimpangan akan semakin meninggi. Tingkat urbanisasi yang terus meninggi kemudian menjadi pemicu masalah untuk kota dapat memenuhi kebutuhan orang-orang di dalamnya.

masalah-perumahan
Sumber: Google

Selain itu, masalah kelayakan akan hunian menjadi bagian yang sangat disoroti. Terbukti dengan banyaknya masyarakat yang masih berada di level bawah dan dengan kondisi yang demikian. Ketidakberlakuan peraturan pemerintah menjadi satu penyebabnya. Namun, di lain sisi aturan tersebut pun perlu dikaji lagi apakah sudah sepenuhnya layak dan benar. Lalu, apakah pemerintah sebaiknya menjamin seluruh masyarakatnya untuk memiliki rumah seperti apa yang telah diimplementasikan pemerintahan Jerman saat setelah perang dunia kedua dulu dalam menangani dampaknya. Atau membiarkan masyarakatnya berjuang sendiri, dengan segala kebebasan yang telah diberikan.

Sumber: Google
Sumber: Google

Mekaninsme dan tata kelola perumahan, permukiman, dan perkotaan terus berkembang seiring bumi yang terus berotasi dan berevolusi. Tidak hanya fisiknya saja, terdapat banyak bidang pendukung lain yang perlu seorang arsitek pelajari. Bidang energi, lingkungan, material, hingga kondisi psikis, interaksi, dan pola aktivitas dari para penghuni memengaruhi nilai sebuah produk arsitektur. Olehnya, arsitektur mencakup keseluruhan ilmu tentang pembelajaran, pengenalan, dan pengaplikasian untuk mengatasi permasalahan yang ada. Bedanya, dalam konteks ini, permasalahan yang ditangani yakni berskala besar mencakup satu kawasan perkotaan.

Incoming search terms:

14 opinions on “Perumahan, Permukiman, dan Perkotaan dalam Perspektif Arsitektural”

  1. Berat nih artikelnya..ngomongin perumahan, pemukimna, arsitek…eh, pas dilihat bionya..rupanya anak Arsitektur ITS Surabaya, toh…. pantesan…. hehehe..

    Semoga dengan menulis soal artikel yg berkaitan dengan kuliah, bisa lebih mengembangkan ilmunya ya, Ridha…

    1. Itu tujuannya mas, hehe, karena kalau ga disangkut-sangkutin bisa-bisa jadi mahasiswa teraneh di kampus. Wkwk. Amiinn mas
      Berat? Ga juga mas, ehehe. Makasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak di blog yang aneh ini mas

  2. Pak Arsitek saya nyimak dulu ya soalnya rada berat nih topiknya…maklul saya awam dibidang Ini. Ngomong2 saya dulu pernah belajar gambar sketchup, tapi nggak lulus2….ada ide apa kira2 biar dapat gambar sendiri design rumah?

    1. Yaampun, pada bilang berat padahal ini hasil tulisan mahasuswa tahun pertama lo mas daniel. Untuk ide, mungkin pertama2 tentuin dulu fungsi dari rumahnya sendiri, beserta keperluan/aktivitas apa aja yg bakal dibutuhin disana. Tinggal plotingkan ruang dengan ide bentuk apa saja, bisa dengan barang2 sederhana sampai misal hewan,bunga dll.

    1. Kuliah double jurusan aja mas arman, barangkali aja sanggup trus gelarnya double juga haha. Untuk konsep macem2 sih tergantung wilayah geografis juga, kalau yg tradisional mungkin karena kan global lagi aware sama isu iklim, entah pemanasan global dll. Nah dari situ para arsitek berlomba2 buat bikin karya yg mampu beradaptasi dengan lingkungan bukan malah mencemari. Salah satunya dgn meniru konsep tradisional gitu mas.

  3. Aih, rumah ini memang salah satu masalah pelik buat negara ini dan juga rakyatnya. Aku tertarik sama kalimatmu,
    “…apakah pemerintah sebaiknya menjamin seluruh masyarakatnya untuk memiliki rumah…”

    Aku sih mengaitkan dengan keterbatasan lahan (khususnya di Jawa, klo di luar Jawa padahal masih banyak) dan jumlah populasi yang kian meningkat (lagi-lagi khususnya di Jawa). ALhasil bisa jadi (di Jawa) satu rumah bakal ditempati oleh lebih dari 1 keluarga.

    1. Nah itu, karena di luar negeri ada negara yang pemerintahnya juga menjamin kpemilikan rumah bagi tiap-tiap warganya mas wijna. Kalo di indonesia diterapin, kemungkinan besarnya sih bakal banyk timbul masalah. Selain keterbatasan lahan kayak yg mas bilang tadi, pola pikir dan sikap konservatif org indonesia apakah sudah cukup mumpuni untuk menangani hal seperti ini. Takutnya nanti malah timbul permasalahan lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.