Punya Banyak Rekening Bank

Ngomongin dunia perbankan, cerita kali ini masih ada kaitannya dengan postingan sebelumnya tentang pencarian sponsorship. Rekening bank mutlak diperlukan baik untuk mempermudah penampungan dana dari donatur, maupun untuk mempermudah transaksi keuangan sebagai bekal ketika hendak ke luar negeri. Makanya perlu pinter-pinter nih milih bank yang sudah support aktivitas perbankan di negara tujuan.

Sebagai anak dari salah satu pelosok desa di Kalimantan, sebelum merantau, gue udah bangga banget karena punya rekening plus kartu ATMnya Bank Rakyat Indonesia (BRI). Alasan kenapa BRI dipilih cukup rasional, karena cuma Bank BRI ini yang ada di tempat kelahiran gue itu. Bank paling merakyat lah istilahnya mah. Tiap 100 meter ada aja nemu ATM nya. Haha.

Pengalaman Konyol Di Luar Negeri

Ada banyak keunggulan dari Bank BRI yang gue tahu seperti biaya administrasi murah, saldo pembukaan relatif rendah hanya 200k, dan banyak unit cabangnya tersebar di mana-mana. Nah, meskipun begitu, namanya ciptaan manusia ada aja kurangnya kan.

Ceritanya pas gue ke Vietnam kemarin, gue dengan bangganya gak bawa Dong (mata uang Vietnam) maupun USD. Bermodalkan uang tunai 1juta di dompet dan beberapa ratus ribu di ATM, gue berangkat tanpa perasaan berdosa apalagi takut jadi gelandangan karena gada duit.

Sesampainya di KLIA2 tengah malam buta (Saat itu pukul 01.00 WIB), gue yang kelaparan akhirnya panik gimana caranya nukerin rupiah yang gue punya dengan sebuah burger nan lezat yang terpampang di stand-sign Texas. Jangan heran, maklum aja gue baru pertama kali ke luar negeri, haha.

Setelah muter-muter KLIA2 dengan terus menggeret koper, gue nemu ATM berjejer. Wah ide bagus nih pikir gue, karena pernah baca-baca juga kalau ATM dari Indonesia masih bisa digunakan buat narik duit di ATM luar negeri. Kebetulan gue cuman punya BRI, percobaan pertama gagal lalu beralih ke ATM sebelahnya, masih gagal.

Karena gak mau dapat risiko ATM tertelan or something, gue pun menjauhi ATM-ATM gak guna itu sambil nundukin muka malu. Yup, orang-orang pada liatin gue yang polosnya masukin kartu ATM ke mesin antah berantah yang belum tentu support hahah.

Akhirnya, gue ikhlas rupiah gue yang tersisa di dompet buat ditukerin ke ringgit Malaysia lewat money changer. Gak enaknya ya kursnya beneran jatoh, namanya juga bisnis sih ya. Kenapa ga tuker ke USD? Tambah parah lagi sih kurs belinya gan. Makanya kemarin layaknya gembel yang baru nyasar di kuala lumpur, gue cuman nukeri IDR 300k dan dapet kalau gak salah 56 Ringgit berapa sen gitu.

Selesai nih cerita di KLIA2, pas di Hanoi pun gue masih dilanda permasalahan yang sama. Gak ada bank yang mau nukerin mata uang Vietnam Dong mereka dengan Rupiah hingga di Bandara Noi Bai sekalipun. Untungnya ada temen Indo yang juga sama-sama berangkat ke Vietnam, dedicated thanks to Disa, udah minjemin $50 nya buat gue. Hahaha.

Setelah semiggu di Hanoi dan uang pinjeman semakin menipis, gue diajak nuker rupiah di Old Quarter, pasar di pusat kota Hanoi. Nukernya pun gak di Money Exchanger, tapi di toko emas yang banyak tersebar di Old Quarter ini. Mengenai rate, malah bisa dibilang lebih bagus dibanding kalau gue nuker di money exchanger di pasar-pasar ataupun bandara.

Usut punya usut, alasan kenapa ATM BRI gue gak bisa dipakai tarik uang di luar negeri adalah karena memang jenis kartu ATM gue ini gak support. Di penampakan kartunya pun tidak ada tanda-tanda kalau ada kerjasama dengan VISA/Mastercard/Cirrus/Maestro dll. Adanya cuman atm bersama doang, which is so popular only in Indonesia. Hehe.

Hingga beberapa waktu setelah liburan idul fitri, gue berencana buat membuka rekening bank baru. Sempet bingung juga, karena ada banyak banget pilihan bank di Indonesia, mulai dari bank milik BUMN sampai milik swasta. Setelah menimbang baik-buruk, kelebihan-kekurangannya gue pun memutuskan buat buka akun di Bank BCA, Bank Mandiri, Bank Kalsel, dan Jenius (Bank BTPN).

BANK BCA

Ketika masih intense bergulat dengan internet marketing, paid review, linkads, dan kawan-kawannya, gue sangat mengidam-idamkan punya rekening Bank BCA ini. Alasannya sederhana, tiap kali dapat bayaran pasti kena potong biaya administrasi. Bahkan ada beberapa client yang menolak mentah-mentah kerjasamanya kalau kita gak punya Bank BCA. Menyedihkan, lah guenya cuman punya BRI, itupun masih atas nama saudara. Hehe.

Hasrat buat punya rekening ini masih besar, yang akhirnya pada pertengahan juli lalu gue resmi jadi nasabah bank swasta ini. Proses pembukaan rekeningnya terbilang sangat gampang dan cepat. Yang dibutuhkan hanya fotokopi KTP, materai 6000, dan saldo awal minimum IDR 500K. Nanti kita akan ditawari kartu ATM Paspor BCA keluaran terbaru yang sudah support Flazz (E-Money) atau ATM keluaran lama (Tanpa Flazz).

Selain itu perbedaannya, kartu keluaran terbaru tidak bisa digunakan di luar negeri karena menggunakan chip flazz tadi. Jika ingin bisa digunakan di luar negeri, kita bisa menggantinya ke kartu lama tanpa chip yang didukung Cirrus dan Maestro.

Nilai plus di BCA, tempat/cabang kita membuka rekening tidak harus sama dengan domisili di KTP. Jadi enak buat perantau yang jauh dan masih belum punya kerjaan untuk dimintai surat keterangan domisili. Gak enaknya adalah, yang bikin gue kaget, biaya administrasi bulanan di BCA cukup mencekik buat kantong mahasiswa. Untuk kartu tipe Silver yang gue ajukan, akan dikenai biaya sebesar IDR 15K perbulannya.

BANK MANDIRI

Beralih ke mandiri, bank ini juga menjadi sebuah keharusan yang dimiliki blogger pencari duit kala itu. Namun, baru belakangan ini terealisasi buat punya rekening di Bank Mandiri. Selain alasan ga ada duit, ribet, dan berlebihan kalau punya banyak rekening, gue masih gak ikhlas kalau saldo minimumnya adalah IDR 100k ketika di bank lain hanya mensyaratkan minimal IDR 50K. Lumayan cuy bisa buat makan tiga hari ala mahasiswa.

Persyaratan membuka rekening di Bank Mendiri mewajibkan tempat pembukaan rekening harus sesuai dengan alamat domisili di KTP. Makanya kemarin sempat wara-wiri di Banjarmasin dengan hasil nihil berhubung KTP gue adalah hulu sungai. Sudah bela-belain datang ke Kantor Cabang Utama di Banjarmasin tapi tetep gabisa.

Akhirnya buka rekeningnya di Kandangan, persyaratannya masih sama, fotokopi KTP, saldo awal IDR 500K untuk jenis gold, dan entah kenapa kemarin gak dimintai materai ya? Untuk biaya administrasi bulanan cukup terjangkau untuk jenis Gold yakni IDR 7K. Asiknya, kartu ATM Bank Mandiri ini udah support VISA which is widely available worldwide. Bisa dipake debit juga, manteplah. Sekalian juga kemarin minta didaftarin SMS dan Internet Bankingnya.

BANK KALSEL

Bikin rekening ini sebenernya dadakan, dibutuhkan sebagai syarat pendanaan kegiatan. Deposito awalnya hanya IDR 50K sudah dapat buku rekening dan kartu ATM. Biaya administrasi bulanannya IDR 6K. Cuman gerak-gerik kalau punya akun di bank ini ga seleluasa bank lain. Maklum, unit bank kalsel hanya tersebar di wilayah Kalimantan Selatan saja. Ditambah satu unit pusat di Jakarta. Tapi tenang, masih bisa kok dipake di jaringan ATM bersama.

JENIUS (BANK BTPN)

Sebut saja ahmad, orang yang ngenalin gue sama jenis pas di Jakarta kemarin. Sebelumnya, pernah denger juga tentang jenius ini cuman masih belum terlalu ngerti. Jenius ini rupanya produk dari Bank BTPN yang beroprasi di Jakarta. Tapi tidak menutup kemungkinan warga Indonesia yang berKTP non Jakarta untuk menjadi nasabah Jenius.

Nah, menariknya, jenius ini hanya memberikan kartu ATM jadi gak pake buku tabungan. Semua proses transaksi perbankan bisa dilakukan lewat aplikasi jenius yang tersedia di Playstore. Pokoknya udah bener-bener praktis ditambah lagi keuntungan-keutungan lain seperti gak ada biaya admin bulanan, bebas tarik uang di jaringan atm bersama, dll.

Oh ya, untuk pembukaan rekeningnya gratis aka gak dipungut biaya apapun. Tapi sayang, pas kemarin mau buka rekening di jenius unit kokas, ternyata diharuskan menggunakan EKTP asli. Berhubung gue masih belum dapat EKTP (Blankonya habis terus) dan hanya mengandalkan surat keterangan perekaman EKTP. Jadi masih belum bisa daftar. Hm.

Kira-kira begitulah lika-liku pengalaman gue berkutat di dunia per-rekeningan. Haha. Kalian pilih yang mana?

4 opinions on “Punya Banyak Rekening Bank”

  1. Wee.. lama juga ya gue nggak mampir di blog lu, Rid! Hahaha

    Sejauh ini jenis bank yang gue pake cuma dua. BRI sama BCA. BRI karena waktu itu lagi butuh banget buat belanja di online shop yang mau nggak mau harus buka rekening dulu. Pake punya bokap? Ga diijinin. Jadi terpaksalah gue buka sendiri dengan pake KTP bokap waktu itu.
    Lalu setahun setelah umur gue cukup untuk bikin KTP, akhirnya gue buka satu rekening lagi. Kali ini di BCA. Tujuannya ya nggak jauh dari nabung sama transaksi online maupun di pusat perbelanjaan waktu itu (iya, di daerah gue untuk transaksi debit cuma bisa dilakukan dengan kartu BCA). Oya, gue orangnya males pegang uang banyak. Jadi apa-apa selalu belanja pake cara debit. Hehehe
    Kalau suruh pilih antara kedua jenis bank itu, tentu, gue lebih prefer BCA karena saldo ditahannya di bawah 100K.
    Reza Andrian recently posted…Bahagia Untuk Hal SederhanaMy Profile

  2. Wah, pelajaran banget nih buatku, semoga kalau nanti ke LN sudah ada persiapan, setidaknya selain uang tunai, ATMnya juga..hehe

    Kebetulan aku udah ada EKTP, jadi mudah ya..he

  3. Selalu deh ada wawasan baru kalo baca pengalaman bang tantowi.

    BTW, kartu ATM BRI aku ada tulisan VISA nya loh,
    Kira-kira bisa di pakai di luar negeri ga yah ?
    Sepertinya ATM VRI bang Tanthowi versi lama gitu ya ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge