Sosok Perempuan di Hari Ibu

Hembusan udara dingin Kota Porto masih belum begitu akrab, tidak hanya bagi tubuh yang sudah terbiasa dengan panasnya Kota Surabaya, tapi juga bagi memori. Berbeda dengan hujan yang menjadi saksi bisu ketidaksepakatan saya akan keputusan seorang Ibu.

Sepuluh tahun yang lalu, saya masih ingat betul bagaimana berkecambuknya perasaan saya ketika menyadari perempuan yang telah melahirkan saya ‘mendepak’ saya keluar dari rumah. Tepatnya satu hari setelah hari kelulusan Sekolah Dasar.

Seorang bocah yang masih belum paham betul keputusan gila apa yang dilakukan Ibu meratapi nasibnya. Tapi saya paham, kondisi keluarga memaksa ibu melakukan hal tersebut. Sudah cukup saya melihat seorang Ibu yang pergi pagi dan pulang larut malam dengan menenteng dua tas besar dagangannya di kedua tangannya, berkeliling dari rumah ke rumah agar ketujuh anaknya bisa mendapatkan kehidupan yang layak.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai mengerti betapa berartinya keputusan yang dulu dibuat Ibu untuk saya mengenyam pendidikan jauh dari tempat kelahiran. Tidak hanya menyoal ekonomi, tapi tentang perjuangan bertahan hidup di tempat baru. Selama sepuluh tahun merantau, saya menyadari bahwa apa yang dilakukan Ibu adalah yang terbaik yang bisa ia lakukan.

Dengan hanya bermodalkan Ijazah SD, tidak berarti ia akan gagal menjadi seorang Ibu. Melainkan, Ibu telah sukses mendidik ketujuh anak-anaknya menjadi seseorang yang lebih baik darinya. “Ibu hanya lulusan SD, kalian jangan sampai seperti Ibu, cukup Ibu yang merasakannya,” ucapnya lembut, hingga saya pun lupa sudah berapa kali ia mengucap hal yang sama kepada anak-anaknya.

Waktu berlalu begitu cepat, kelima anaknya saya akui telah sukses menjadi orang-orang berada, tersisa saya dan adik perempuan saya (kiri) yang masih mengenyam bangku pendidikan. Kelak, adik saya pun saya yakin akan menjadi penerus perjuangan Ibu yang rela bekerja keras untuk anak-anaknya.

Saya sebagai anak keenam di keluarga turut memegang tanggung jawab besar, sebab hanya sayalah yang akan menjadi sarjana satu-satunya di keluarga. Karena perjuangan ibu itu nyata. Karena Ibu pula kita ada.
Di temaram malam Kota Porto, Portugal. (27/10/2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.