Tanjakan Kehidupan

Setiap detik usia bertambah tua dengan sendirinya. Diri kita pun menjadi seorang yang terus tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu. Tak peduli sesingkat apa yang kita rasa. Namun faktanya perputaran waktu tidak bisa dihentikan, pun sel-sel yang berada di dalam tubuh kita tak dapat ditekan pembelahannya.

Sering, ketika sedang menunggu momen yang diidam-idamkan. Perputaran waktu terasa begitu lama dan keadaan seakan sedang diatur sedemikian rupa untuk diperlambat alunannya. Sebaliknya, kegiatann yang rutin kita lakukan, bahkan yang kita sukai akan sangat cepat berlalu. Hingga tanpa disadari sekalipun keberadaannya.

Yang tumbuh dan berkembang tentu bukan hanya yang kasat mata saja. Tumbuhan yang dengan mata telanjang tidak terlihat bergerak pun juga tumbuh. Bakteri yang sangat kecil puntak lupat dari proses ini. Hingga bisa dikatakan bahwa proses tersebut sudah mencakup keseluruhan aspek kehidupan manusia.

Hari ini, hari pertama saya masuk kuliah di semester ini. Hanya ada satu mata kuliah memang yakni Konstruksi Bangunan, tapi lumayan membuat was-was. Di benak saya, mata kuliah yang satu ini sama halnya dengan yang lain seperti Fisika Bangunan dan Mekanika Teknik. Yang dibutuhkan adalah kemampuan berhitung dan analisis yang baik. Tapi setelah diberikan penjelasan oleh dosen, ternyata itu tidak sepenuhnya benar.

Hati saya berangsur lega. Setidaknya mata kuliah yang bia dibilang ‘njeliet’ tidak benar-benar menumpuk di semester ini. Meskipun demikian, mata kuliah ini tidak bisa dianggap enteng. Semua tentu telah ditata rapi demi kelancara studi. Dan pasti lebih berbobot dari semester lalu.

Tidak jauh berbeda. Setiap jenjang kehidupan memiliki suka dukanya sendiri-sendiri. Besar kemungkinan mata kuliah ini akan jauh lebih menyenangkan atau malah sebaliknya. Prinsip ini tentunya sudah sangat lumrah bagi manusia kebanyakan. Hanya mereka yang aware saja yang mampu memahami bahwa keadaan tak lagi sepenuhnya sama. KIta harus bergerak.

Dengan bertambahnya usia, bertambah pula tanggung jawab yang kita pikul. Seumpama hidup itu seperti orang yang sedang naik menanjaki gunung yang curam. Kenyataan bahwa semula semuanya akan terasa baik-baik saja. Kita dengan bangganya bisa naik dengan tenaga penuh, tanpa beban, tanpa dosa. Selanjutnya, berangsur-angsur tenaga kita mulai terkuras yang menyebabkan kecepatan kita berkurang.

Begitu pula kehidupan. Banyak orang dewasa mengatakan bahwa hidup itu sulit. Tak bisa dibenarkan juga disalahkan. Semuanya menyakngkut individu masing-masing. Apakah kita sudah menyiapkan bekal hari esok? Sanggupkah kita menahan terjangan badai minggu depan? Dan mungkin pada akhirnya kita akan berada di titik terendah hidup kita. Kita yang dulu kuat tak lagi berdaya. Tak ada lagi upaya.

Hingga suatu ketika, kita akan mengenal siapa sebenarnya orang yang ada di sekeliling kita. Yang benar-benar ada saat kita ada. Yang benar-benar tak ada saat kita tiada.

M Ridha Tantowi
Jl.Keputih Gang 3 No.30, Surabaya

Pukul 18.27 10 Februari 2015

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.