The Day, Edisi Spesial Lebaran dan Kelahiran

 

Orang-orang mengatakannya ini adalah hari kemenangan. Ia Ibaratnya puncak tertinggi dari sebuah proses pendekatan dan penyucian diri. Selama satu bulan penuh, umat muslim terus bergelut dengan rutinitas yang tak biasa. Sembari berharap pahala yang dijanjikan berlipat-lipat ganda banyaknya bisa didapat.

Secara pribadi gue menganggapnya lebaran sebagai titik awal refleksi diri. Seekor ular yang ingin mengganti kulitnya maka ia harus berusaha keras selama berpuluh-puluh hari dengan cara tidak makan apapun. Bisa dibilang ia harus puasa untuk mendapatkan pribadi yang baru. Namun tetap dengan nama dan wajah yang sama. Begitulah manusia. Kita terlahir kembali setelah ramadhan. Demi satu tujuan, pribadi yang baru.

Baca Juga: Tentang Hari Kelahiran

Ga dipungkiri, gue bukanlah seorang muslim yang taat. Ada kalanya sholat terabaikan. Maupun panggilan-panggilan waiib lain yang sering disepelekan. Tapi disini lah gue belajar bahwasanya dianugerahi menjadi ‘makhluk berakal’ itu sulit. Penuh risiko. Lebih-lebih ketika harus berperang melawan hawa nafsu yang menggebu-gebu. Dari sekarang hingga sebelas bulan ke depan pula, semua pilihan baik dan buruk ada pada diri gue sendiri. Semoga tetep istiqomah.

Tepat hari ini juga, secara simbolik umur gue kian menua. Terlepas dari banyaknya celah pribadi yang seakan menyiratkan kalo gue belum dewasa, its okay, it’s process though. Karena gue yakin, semakin tinggi umur seseorang, it doesn’t mean more mature they are. Hanya saja seperti ada tuntutan yang mengharuskan seseorang bersikap demikian seiring waktu berjalan.

Lebaran dan Kelahiran

Cerita sedikit, pagi di hari lebaran ini gue berangkat sholat idul fitri sendiri. Maklum, penyakit di hari-hari sebelum ramadhan kambuh lagi. Gue telat. Alhasil ditinggal orang-orang rumah. Gue panik, padahal masih subuh anget-anget, masih keburu lah ya pikir gue sembari nambel subuhan.

Udah siap, udah pake baju koko juga. Gue pun ngubek-ubek lemari, nyari sajadah yang barangkali masih ada nyisa. Tapi ujung-ujungnya gada juga. Rumah macam apaan ini batin gue. Cuman bermodalkan koran dua kembar, gue buru-buru cabut. Takut pahalanya berkurang. Eh. Aslinya takut malu karena keburu udahan sholatnya. Hee

Sesampainya di masjid As-shiratal Mustaqim Tanjung, masjid terdekat dari rumah gue, ternyata masih banyak orang-orang yang baru dateng. Plek. Tau gini tadi nyantai-nyantai dulu. Sebuah penyesalan yang sungguh, ehm biasa aja sih, lebay.

Gue yang cuman bermodalkan lembaran-lembaran koran ini hanya bisa nunggu. Gue ga berani gelar tiker duluan, takut beterbangan kemana-mana sebelum waktunya. Di samping minder juga, cuman gue yang sajadahnya jadi-jadian gini. Berdiri. Dan berdiri. Lama-lama pegel juga akhirnya.

Sembari nunggu. Sang imam atau khotib atau apalaj gue lupa memberikan sedikit tausiah singkat gitu. Ini nih yany bikin gue agak geli. Temanya sih biasa “Keutamaan Menuju Sholat Idul Fitri” Jadi ceritanya beliau memberikan kiat-kiat atau apa aja yang sunah dan baik dilakukan menjelang lebaran.

Seketika omongannnya langsung menjurus ke bulu. Bagaimana muslim harus menjaga bulu-bulunya. Tanpa sensor sedikitpun. Masih sopan sih tapu gue ngerasa awkward. Sedangkan jemaah-jemaah yang sudah berumur pada ketawa lepas.

“Apalagi bulu yang ada di bawah, baik laki-laki maupun perempuan,” ujarnya.

“Tapi kalau dibandingin lebih mahal mana pahalanya mencukur bulu, punya laki-laki atau perempuan?” tanyanya kepada jamaah. 

“Jawabannya adalah perempuan karena kan dia tidak ada tempat berpegang,” jawabnya yang mengundang tawa dan senyum-senyum mesum jamaah.

“Kan ga baik juga kalau bulu-bulu kita dibiarkan, udah kaya sarang burung aja, hitam lagi, ” timpalnya, lagi ada senyum-senyum yang mekar di wajah para jemaah. 

Gue shock. Gue g ngerti kenapa bisa beliau jadi bener-bener frontal dan menjurus haha. Gue yakin oranf-orang yang mau sholat saat itu pada berpikiran macem-macem. Atau bahkan mungkin membayangkannya? Lol

Ga lama sholat ied pun dimulai. Gue memilih di barisan paling depan kedua tapi di jalanan aspal. Koran yany sedari tadi gue bawa ga cukup tebal buat memastikan gue ga nyium bebatuan. Fine sih, setidaknya gue ga secara langsung nyium t*i burung yang mungkin jatoh di aspalnya. Hmm.

Pulang dari sholat, mobil masih belum keliatan yang berarti rumah masih sepi. Orang-orang rumah masih belum pada balik. Gue cuman bisa nonton tv, aktivitas rutin selama bulan puasa kemarin. Yang entah kenapa sejak jadi mahasiswa gue seakan-akan rindu nonton tv. Makanya disini dipuas-puasin. Hehe.

Ga beberapa lama, orang rumah pun dateng. Ada banyak makanan juga. Ada nasi kuning, kare ayam, lontong, lapat (buras), dan gak ketinggalan pisang keju bikinan gue. Iya, gue demen banget sama pisang keju ini. Dari ramadhan kemarin menu ini selalu ada. Karena biasanya suka males makan nasi. Ngemil pisangpun jadi.

Habis makan-makan. Masih ngelanjutin nonton tv yang berujung ketiduran sampai pukul 13.00. Gue seakan-akan larut kebawa mimpi, pulas banget. Namun seketika semuanya seolah rusuh. Kok ada yang bersik-berisik ya. Setelah mendengarkan dengan seksama lagi, rupanya saudara-saudara gue dari jauh udah pada dateng dan ngumpul semua. Ditambah keponakan yang aktifnya gak ketulungan.

Gue pun menghampiri mereka yang masih pada makan di dapur. Gue duduk bentar dengan mata masih agak-agak tertutup dan pikiran masih kemana-mana. Tiba-tiba *plaak* Kepala gue basah sama telor. Berasa dingin-dingin anyir gimana gitu. Telor bebek yang di kulkas mah ini gue yakin.

Ini semua ulah kak arif. Seketika dia langsung kabur dan seisi rumah pada rame. Ada-ada aja. Mungkin maksudnya surprise buat ulang tahun gue. Tapi ga gini juga. Jujue gue paling males kalau mandi, nah ini mengharuskan gue mandi. Huhu. Untungnya gapake tepung, ntar jadi adonan gue.

Kesimpulan

Lebaran dan kelahiran di hari yang sama ini hanya sebatas kebetulan belaka. Yang terpenting, gue bisa memaknai setiap detik yang gue laluin untuk bisa terus berarti. Gak perlu banyak ucapan-ucapan pemanis atau sekadar untuk mengasiani. Gue udah tahu mana yang pemanis dan mana yang peduli.

Semoga ke depan gue bisa terus jadi pribadi yang lebih baik. Happy birthday to me! Segini dulu aja cerita lebaran gue, ceritamu mana? 

2 opinions on “The Day, Edisi Spesial Lebaran dan Kelahiran”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.