Drama Kenaikan Tarif & Penghapusan Bagasi Gratis Maskapai Bertarif Rendah

Di linimasa media sosial sedang ramai bahasan tentang kebijakan maskapai Low-cost Carrier (LCC) atau Budget Airlines yang menghapuskan bagasi gratis di setiap penerbangan mereka. Adapun maskapai yang dimaksud adalah Lion Air dan Citilink Indonesia.

Banyak yang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan baru di dunia penerbangan ini. Termasuk saya sebagai konsumen yang tidak sanggup kalau harus beli tiket pesawat di maskapai full service layaknya Garuda Indonesia.

Baca juga: ​Perbandingan Maskapai Bertarif Rendah di Asia Tenggara dan Eropa

Mengenai penyebabnya masih simpang-siur. Ada yang berasumsi ini disebabkan krisis keuangan Lion Air setelah dilanda kecelakaan fatal beberapa waktu lalu. Tapi ada juga analisis yang mengatakan bahwa sudah tepat jika maskapai berbiaya murah menghapuskan bagasi gratis seiring adanya peningkatan jumlah penumpang.

Namun menurut hemat saya, kualitas yang ditawarkan maskapai sekelas Lion Air masih belum sebanding dengan kebijakan yang baru saja diberlakukan mengawali tahun 2019 ini.

Mengenai tarif, oleh Kementerian Perhubungan rupanya telah disepakati kenaikan tarif bawah pesawat terbang menjadi 35% per Agustus 2018 yang lalu. Inilah jawaban atas kegelisahan teman-teman yang merasa jika harga tiket melambung tinggi meskipun sudah direncanakan pergi jauh-jauh hari.

Terakhir kalinya saya membeli tiket dengan uang pribadi adalah sekitar enam bulan yang lalu. Rute Banjarmasin-Surabaya saat itu masih di kisaran Rp.400 Ribu. Coba tebak sekarang harganya berapa? Sudah tidak kurang dari Rp.800 Ribu teman-teman.

Jika ditambah harus membeli bagasi check-in, ditaksir harga tiket pesawatnya bisa mencapai Rp.1 Juta. Sebuah harga yang tidak murah, lebih-lebih bagi kita warga negara berkembang yang belum semuanya pernah merasakan naik pesawat terbang.

Polemik di masyarakat, tidak sedikit yang meminta kebijakan ini dibatalkan. Sebagian kecil yang lain memberikan lampu hijau dengan harapan servis yang diberikan akan sejalan dengan kenaikan tarif yang diberlakukan.

Dari dua kubu di atas, saya dengan tegas menyatakan keberatan dengan naiknya harga tiket dan penghapusan bagasi gratis ini. Ada beberapa pengalaman buruk saat naik pesawat terbang, dan mayoritas saat naik maskapai berlogo singa ini.

Contohnya ketika pada Juli 2018 lalu, saya harus terbang dari Banjarmasin dengan tujuan akhir Kuala Lumpur namun harus transit dulu di Jakarta dengan Lion Air. Meskipun hanya berdurasi 1,5 jam, kejadian tak mengenakan menghampiri saya saat itu. Koper saya yang mulanya kokoh, mulus, bersih menjadi pincang seketika karena kehilangan satu buah rodanya. Ditambah retak di dua sudut kopernya seperti baru saja dibanting oleh seseorang.

Penampakan Koper Yang Rusak di Penerbangan Lion Air Banjarmasin-Jakarta

Sesampainya di Jakarta, saya pun melakukan komplain ke petugas ground handling. Namun hasilnya nihil. Mereka tidak mau bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi. Akhirnya saya pun mundur dengan rasa penuh kekesalan. Lagi pula, saat itu saya sedang terburu-buru karena harus mengejar penerbangan selanjutnya ke Kuala Lumpur.

Hal yang perlu dibenahi juga adalah soal ketepatan waktu keberangkatan dan kompensasi ketika pesawat delay atau bahkan batal terbang sekalipun. Pengalaman saya menaiki maskapai LCC/Bugdet Airlines akan saya bahas di postingan selanjutnya.

Gampangnya, dengan kualitas yang tidak sebanding tersebut, saya juga sepakat jika penghapusan bagasi dan penaikan tarif bukan menjadi solusi terbaik. Lion Air dan segenap maskapai berbiaya rendah lain harus sama-sama berbenah memperbaiki layanan.

Incoming search terms:

2 opinions on “Drama Kenaikan Tarif & Penghapusan Bagasi Gratis Maskapai Bertarif Rendah”

  1. Untungnya Desember kemarin gue jadi pulang kampung. Kalau engga, mungkin Februari ini gue terpaksa harus membeli tiket dengan harga yang mahal.
    Waktu itu gue nonton CNN Indonesia, dalam suatu wawancara–mungkin juga bisa dibilang semacam diskusi, katanya penyebab adanya kebijakan ini disebabkan kenaikan harga Avtur. Terlepas dari benar atau enggaknya, gue engga setuju dengan kebijakan itu. Tarif normal aja gue jarang pulang, apalagi kalau tarifnya mahal :’)

    1. Haha sepakat. Gue aja liburan semester ini engga pulang, uangnya buat jalan-jalan di sini aja haha.

      Tapi beruntung, beberapa hari terakhir harga tiket pesawat sudah turun sedikit. Walau tetep harganya gabisa sama kayak dulu sebelum naik. Dan satu lagi, kebijakan penghapusan bagasi gratis juga sepertinya ditunda Karena kemarin adek gue beli tiket Citilink dapet bagasi 20kg ternyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.