ISWI 2019: A Lifelong Learner

Di sepanjang perjalanan dengan Kereta DB menuju Ilmenau, mata tidak henti-hentinya disuguhkan dengan pemandangan hamparan padang rumput luas nan hijau. Bersamaan dengan bukit-bukit, danau, hingga sesekali menemui rumah kecil yang tak bertetangga. Mungkin hanya tempat beristirahat setelah berkebun batin saya.

“Welcome to Ilmenau and ISWI 2019, you’re emh..”
“Yes, we’re participants from Indonesia,” timpal saya singkat, karena sudah pasti tidak mudah untuk membaca ratusan nama mahasiswa asing baginya.

Baca juga: Tips Packing untuk Student Exchange

Di stasiun pemberhentian akhir ini, tidak ada aktivitas apapun kecuali sebagai gerbang naik dan turun penumpang kereta. Pemandangan berbeda jika dibandingkan dengan stasiun-stasiun di Indonesia yang ada petugas keamanannya, ada loket tiket, ada toilet, hingga hingar bingar para penumpangnya.

“Cool then let me have your luggages,” ucap laki-laki berperawan besar khas orang Jerman ini.
Koper yang sedari tadi harus mengikuti kemanapun langkah kaki kami, akhirnya bisa sekejap dihilangkan alias dibantu untuk diangkut dengan mobil. Sedangkan para peserta mengikuti panitia lain yang mengarahkan kami untuk berjalan menuju registration point di mensa building.

Selayang mata memandang, tidak banyak warga lokal yang beraktivitas di sini. Selain karena memang hari itu adalah hari minggu, Ilmenau ini jauh lebih kecil dari bayangan saya sebelum berangkat.

Setelah menempuh kurang lebih 2 km, kami sampai di tujuan. Panitia yang merupakan mahasiswa TU Ilmenau ini sigap dalam melayani para peserta. Tidak butuh waktu lama, kami akhirnya mendapatkan berbagai hal yang dibutuhkan beserta seorang host yang akan menampung peserta selama program. Saya sendiri mendapatkan host seorang mahasiswa master TU Ilmenau asal mesir.

“Here’s your lunch and stuff, and enjoy the program.”

Menarik. Perbedaan budaya, kebiasaan, pola pikir, bahasa dll ini adalah tantangan. Karena memang sudah cukup lelah dan tidak mandi selama tiga hari (sejak dari Jakarta). Akhirnya saya bergegas menuju tempat host. Walau tidak sesuai dengan ekspektasi saya sebelumnya, tapi beruntung host saya ini orang yang sangat baik. Bahkan ketika saya pulang dini hari sekalipun.

“It’s okay, I knew that you are having tough schedule here,” ujarnya, membalas permintaan maaf saya sembari tetap terlelap di bawah selimutnya.

Heningnya malam itu cukup membuat telinga akrab dengan suara napas masing-masing. Dan sesekali ditambah alunan musik beraneka genre yang bersumber dari student club gedung sebelah. Hingga saya pun terlelap dengan sepatu masih menempel di kaki.

Baca juga: Perjuangan Ke Eropa Gratis Lewat ISWI 2019

Here’s a sum up of ISWI 2019


Bersama Dr Ing Ilham Habibie yang memberikan keynote lecture di ISWI 2019

Keynote Lectures & Panel Discussions

Salah satu kegiatan yang ada di international student week in ilmenau (ISWI) ini adalah adanya keynotes lectures dan panel discussion yang dibawakan oleh beberapa pemateri. Di antaranya: Dr Steiner Bryn yang berbicara mengenai pentingnya dialog, Dr Ing Ilham Habibie yang berbicara mengenai Peluang dan Tantang Kerjasama Riset, Prof Ulrich Brand mengenai usaha-usaha konservasi lingkungan global.

Group Work ISWI 2019 Transport and Mobility

Working Group

Aktivitas utama ISWI 2019 adalah working group. Di mana Saya memilih working group Transport dan Mobility bersama dengan tujuh peserta lainnya dari tujuh negara yang berbeda yakni gambia, uganda, ukraina, maldova, mexico, india, dan iran. Pada working grup ini kami berdiskusi banyak mengena moda-moda transportasi yang ada di masing-masing negara peserta. Kami banyak belajar mengenai permasalahan-permasalahan dan solusi dari berbagai persoalan yang terjadi di negara masing-masing sehingga kemudian kita bisa belajar untuk kemudian diterapkan di negara asal kita.

Selain itu kita juga belajar mengenai transportasi yang ada di Jerman. Sebagai negara maju Jerman memiliki berbagai mode transportasi yang mumpuni yang bisa diandalkan. Namun ternyata dibalik kecanggihan moda transportasi Jerman masih ada beberapa kekurangan seperti halnya mengenai ketepatan waktu jadi persoalan besar bagi penduduk negara Jerman. Selama 10 hari, kami bertemu dan berdiskusi, presentasi ide, kemudian membahas berbagai macam kemungkinan solusi, alternatif ide dan penyelesaian masalah kegiatan mobilisasi dan transportasi negara.

Karena peserta datang dari berbagai macam disiplin ilmu yang berbeda maka penyelesaiannya pun beragam misalnya saya yang berasal departemen arsitektur memiliki pandangan untuk melibatkan arsitektur dalam penyelesaian masalah mengenai transportasi Misalnya saja mengenai perbaikan pedestrian way, penambahan shelter, signage, dan perbaikan sirkulasi.

ISWI Open Space

Di sini juga ada kegiatan Open Share Space di mana peserta perbolehkan untuk membuat workshop yang sendiri dengan tema apapun. Sehingga ini memungkinkan untuk peserta lebih orasi kreativitas mereka lebih mengenal peserta lain yang mungkin memiliki minat kegemaran yang sama. Adapun berbagai workshop hasil diinisiasi oleh peserta yakni developing leadership, meditation, climate change, theater, dan lain-lain.

Mahasiswa Indonesia di World Food Festival ISWI 2019

World Food Festival

Ada agenda World Food Festival yang memungkinkan bagi peserta untuk menunjukkan makanan-makanan khas dari negara masing-masing termasuk dari negara Indonesia. Indonesia diwakili oleh 20 peserta dari berbagai universitas di Indonesia. Adapun Makanan yang kami adalah rendang, indomie, abon sapi, dodol, bakpia, dan lain-lain.

Mahasiswa indonesia di International Student Week in Ilmenau (ISWI) 2019

Final Presentations

Setelah berhari-hari melakukan diskusi di working group khusus yakni transport dan mobility, di hari terakhir kami melakukan presentasi kepada publik dan peserta dari 75 negara lainnya. Di sini peserta lain dapat bertanya atau menyampaikan pendapat mereka mengenai transport dan mobility. Misalnya saja mengenai alasan mengapa orang-orang memilih menggunakan mobil pribadi dibanding menggunakan transportasi publik yang padahal dapat menyumbang kerusakan lingkungan yang lebih parah.

Board Sign ISWI 2019 Jerman

Closing Ceremony

Pada closing ceremony 350 peserta berkumpul kembali di auditorium untuk mendapatkan sertifikat selama 10 hari di ISWI 2019. Di sini pula ditampilkan video kegiatan yang telah dilalui selama 10 hari kebelakang. Sebab hanya dengan 10 hari terjalin ikatan yang kuat antar peserta, saling bertukar budaya, mau belajar menghargai pendapat, menghormati perbedaan dan lain-lain.

 


“How’s today?” sapa seseorang sembari melempar senyum kecil.

“Sometimes, things work out of our expectation, but it’s normal. So it’s our job to fix things up,” timpalnya seolah sudah paham tentang apa yang akan saya katakan.

“It’s not the end, it’s a start.”

Walau melelahkan, pengalaman mengikuti ISWI 2019 ini akan menjadi pelajaran seumur hidup. Tak peduli baik, buruk, melelahkan, membahagiakan ataupun mengecewakan. Selain hanya agenda-agenda berulang di atas, ada banyak hal lain yang belum saya ceritakan. Ada cerita horornya Jugendherberge, teman-teman inspiratif, hingga kejadian unik dan langka lainnya.

See you next.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.