Opini,  Stories

Life is Annoyingly Unfair

Menginjak tiga tahun saya bekerja dan tinggal di Jakarta, ada banyak hal baik dan buruk yang pernah saya amati. Banyak yang bilang Jakarta adalah kota yang keras, tapi di sisi lain, ada pula yang menyanjung hebatnya Jakarta dalam hal tata kota serta perputaran ekonominya.

Ketika masih duduk di bangku perkuliahan, cita-cita saya kala itu hanya ada dua: 1) Bisa bekerja di Jakarta atau 2) Bisa kuliah atau bekerja di luar negeri.

Beberapa kali melakukan kunjungan dari Surabaya ke Jakarta, menjadikan Jakarta punya sisi menarik tersendiri bagi saya. Namun, itu sebelum saya mengenal sisi lainnya dari kota ini.

Pasca lulus sarjana, rupanya, memang sudah takdir saya berlabuh dan mengadu nasib di kota ini. Alasan ketertarikan saya pun bukan tidak berdasar. Selain kebutuhan entertainment, sight-seeing kota yang memanjakan mata, exposure akan beragam hal, hingga jaminan kebebasan hidup jadi alasan ungggulan saya. Namun, di balik gemerlapnya Jakarta dan segala kebebasannya, ada momen di mana saya merasa lelah dengan kota ini.

Saban hari, saya berjalan kaki kurang lebih 2 kilometer dari tempat tinggal untuk menuju Halte Transjakarta terdekat. Jarak pendek ini sebenarnya tidak terlalu berarti kalau jalan yang saya lewati sudah sepenuhnya dibuat secara manusiawi. Tapi, realitanya tidak demikian.

Baca juga: Menimbang Kebijakan Work From Home dari Kacamata Perantau

Dalam perjalanan saya menuju kantor menggunakan transportasi publik Transjakarta ini, saya bisa membaginya ke dalam empat babak.

  1. Babak pertama, dimana saya harus melewati jalan setapak berukuran kurang dari satu meter. Di sebelah kirinya, terdapat parit air berwarna hitam pekat. Sesekali, ada makhluk dengan hidung saktinya yang wara wiri tanpa permisi. Soal aroma, tidak bisa dipungkiri lagi kalau parfume merk lokal yang saya gunakan tidak akan mampu untuk menangkisnya. Tenaganya sungguh terlampau kuat untuk membuat siapa saja tidak bisa melupakan sensasinya. Bahkan masker KF94 yang saya kenakapan pun dibuat lemah pertahanannya. Tidak lupa, dua hingga tiga titik gundukan sampah setinggi badan orang dewasa juga jadi panorama indah di pagi hari saya. Positive thinking saja, mereka sedang menunggu antrian menuju tempat peristirahatan terakhir mereka di Bantargebang. Itu pun kalau sang penjemputnya masih ingat.
  2. Babak kedua, jalanan berbentuk seperempat lingkaran yang sempitnya tidak ada lawan. Saya harus beradu kuat dengan motor, mobil, truk, hingga ada saja yang melawan arus. Oleng sedikit saja ke sebelah kanan, maka dipastikan saya akan berciuman dengan aspal. Sepanjang perjalanan, jika beruntung, sesekali saya akan mendapatkan bedak alami di pagi hari. Produk dari aktivitas ibu-ibu yang menjemur kasurnya di depan rumah mereka. Tidak lupa trotoar yang jalurnya terputus setiap beberapa meter. Kadang kala ada gerobak, ada jemuran, ada pohon yang akarnya senang memberontak, hingga kios tanaman yang entah siapa pemiliknya.
  3. Babak ketiga adalah babak terakhir di mana setiap orang yang mengandalkan transportasi umum pasti tahu seperti apa tantangannya. Adapun yang saya maksud adalah jembatan penyebrangan orang (JPO) yang terkoneksi langsung dengan halte transjakarta. Sebenarnya, terdapat jalur pintas yang bisa digunakan untuk memangkas waktu tempuh. Jika dikalkulasi, kalau menggunakan JPO bisa memakan waktu 5 menit, nah, jika lewat jalan pintas ini hanya membutuhkan waktu 1 menit saja. Namun, kita harus siap-siap saja untuk beradu cepat dengan pengguna kendaraan lain.
  4. Babak keempat, ketika bus Transjakarta telah selesai menjalankan tugasnya mengantarkan saya di halte terakhir sebagai halte terdekat dengan kantor. Dibilang dekat, juga tidak tepat sih. Karena sebagai yang mengandalkan transportasi publik, jarak tempuh dari halte ke kantor ini tidak manusiawi. Dibutuhkan paling tidak 40 menit berjalan kaki dengan jaminan saya akan bermandikan keringat setelah sampai. Sehingga, mau tidak mau, layanan ojek online adalah penyelamat saya. Bayangkan berapa ratus hingga ribu orang yang sama nasibnya dengan saya jika harus melakukan hal yang sama dengan apa yang saya lakukan. Selain sebagai penyumbang karbon, orang-orang ini juga membuat kemacetan yang seharusnya bisa dihindari dengan transportasi publik sebagai solusinya.

I do not beg for sympathy.

Hanya saja, ini adalah murni keluh kesah saya sebagai pengguna transportasi umum. Jalur pejalan kaki yang tersedia saat ini masih belum memadai untuk dapat dikatakan bahwa Jakarta adalah kota yang terintegrasi. Mobil dan motor masih mendominasi kebutuhan jalan raya. Belum lagi menyoal konektivitas pedestrian way, JPO, zebra cross, dengan halte atau stasiun.

Tidak usahlah dulu mempercantik infrastruktur yang sudah baik. Saya lebih membutuhkan tambahan infrastruktur yang memadai ketimbang JPO penuh dengan bedak dan gincu. Ke depan, semoga Jakarta tidak hanya berbenah secara estetika saja, melainkan juga benar-benar membangun untuk implementasi konektivitas aktivitas warganya. Tidka heran jika warganya, dan Indonesia secara keseluruhan semakin malas untuk jalan kaki dan menggunakan transportasi publik.

Masalah lainnya mengenai ketersediaan hunian, komersialisasi lahan publik, hingga kualitas air dan udara adalah soal lain. Cukuplah minoritas jadi objek kampanye pendongkrak popularitas, tidak perlu pula menjadikan minoritas korban inkonsistensi pemerintahannya dalam hal pembangunan.

Baca juga: Kehidupan Jalanan Kota Surabaya

Sumber: Folkative

Leave a Reply

%d bloggers like this: