Stories

Makna Integritas di Selembar Kertas

Saat masih di bangku SMP, saya terbilang sudah gencar mencari berbagai sumber pendapatan. Setelah cukup lama mengandalkan internet dan kemampuan menulis ala kadarnya, kejayaan saya 2-3 tahun itu pun akhirnya harus karam.

Zaman berubah, kemampuan menulis dan berjejaring atau singkatnya disebut blogging ini secara bertahap mulai dikalahkan bot-bot super yang mampu memproduksi konten secara massive dan tertarget. Pergeseran ini layaknya ojek online yang beberapa tahun terakhir menggerus eksistensi ojek pangkalan. “Kalau tidak ada inovasi, maka bersiap-siaplah untuk mati,” katanya

Baca juga: Tidak Ada Masalah yang Terlalu Besar

Di perguruan tinggi, kemampuan menulis ini saya coba asah lagi dengan bergabung ke sebuah unit humasan. Di awal, yang saya ketahui adalah kuantitas tulisan berbanding lurus dengan besaran honorarium. Meski begitu, ada standar tertentu agar sebuah tulisan layak dihitung dan dikonversikan ke alat tukar berupa uang. Namun, seiring berjalannya waktu, kebutuhan mulai berubah, algoritma search-index google berubah, pun visi-misi.

Alternatif lain selain kuantitas, adalah dengan bermain kualitas yakni mengirimkan tulisan kita ke media komersil seperti majalah, koran, ataupun media berita daring. Prosesnya gampang, tapi agar bisa tembus itu yang susah. Dari puluhan yang pernah saya kirimkan bermodalkan nekat, hanya hitungan jari yang berhasil menembus dapur redaksi.

Dibanding cara di atas, sebenarnya ada cara lain yang lebih cepat dan mudah. Alih-alih menulis, skill yang paling dibutuhkan di sini adalah negosiasi. Amplop demi amplop pun bisa dikantongi. Belum lagi menyoal posisi strategis dan jalan-jalan gratis.

Belakangan, saya baru sadar bahwa persepsi terhadap amplop tadi berbeda di masing-masing orang. Ada yang menganggap amplop tersebut sebagai suatu yang haram, atau sebagian lagi menganggapnya sebagai hal yang biasa dan bisa diterima.

Terlebih hidup di zaman digital ini, rasanya makin mudah saja memutihkan kertas yang tadinya penuh noda. Ada yang berucap syukur atas klaim rezeki yang turun dari langit, klaim anak sholeh/sholehan hingga klaim keberuntungan layaknya bermain gacha.

Baca juga: Everything Happens For A Reason

Entah memang rezeki atas usaha yang sudah ia lakukan, atau rezeki atas sesuatu yang tidak semestinya ia lakukan. Saya rasa, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Satu hal yang pasti, melumrahkan sesuatu yang tidak seharusnya menjadi lumrah tidaklah benar. Beribu-ribu lembar pakta integritas pun tak ada artinya tanpa kejujuran dan rasa kecukupan.

3 Comments

  • Reza Andrian

    Gue juga merasakan hal yang sama. Kejayaan beberapa tahun yang lalu harus karam gara-gara gue mulai jarang menulis, mulai kurang memperhatikan apa yang gue tulis. Padahal untuk membangun brandingnya itu nggak mudah, bahkan butuh beberapa tahun.
    Terlebih lagi, sekarang gue juga bekerja sebagai penulis teknis. Akibatnya, blog jadi kurang mendapat perhatian. Tapi, belakangan ini gue lagi berusaha membangunnya kembali. Yah, semoga aja bisa XD

Leave a Reply to Muhammad Ridha Tantowi Cancel reply

%d bloggers like this: