My Life in a Nutshell

2001

Tujuh belas tahun yang lalu, sekelilingku semuanya asing. Wajar saja, sebab teman-temanku sudah tidak lagi di sini. Hanya ada aku dan beberapa anak lainnya yang jumlahnya bisa dihitung dengan satu. Aku malu tapi aku tidak berbuat apa-apa. Keputusan wali kelas untuk tidak menaikkanku ke kelas dua sepertinya sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Aku termasuk satu dari beberapa anak yang kesulitan belajar, termasuk membaca dan berhitung yang menjadi syarat naik kelas.

Penggaris panjang kayu yang menggantung di samping papan tulis kapur rasanya sudah tidak asing lagi dengan tanganku. Tapi tetap saja, tidak ada perubahan berarti. Yang ada hanya tanganku dan kupingku yang berubah merah karena berkali-kali tidak memenuhi ekspektasi guru yang mengajar. Hingga kemudian aku paham mengapa keputusan itu adalah yang terbaik.

Rasanya, ini adalah masa dimana aku tidak dapat mengenali diriku lagi. Jangankan percaya diri, untuk berjalan tegak dengan pandangan lurus ke depan saja aku tidak mampu. Belum lagi teman-teman sekelasku dulu yang seolah-olah tidak lagi mengenaliku.

Baca juga: Impian Ada di Tengah Peluh

2007

Sebelas tahun yang lalu, masa sekolah menengah pertama yang ku jajalani tidak semenyenangkan teman-teman sebayaku. Ada banyak hal yang menjadi akar masalahnya. Masalah finansial sebagai anak yang bersekolah di SMP Swasta cukup membuat aku dan keluarga ketar-ketir. Sampai suatu ketika, aku mendapat panggilan dari bendahara sekolah karena menunggak uang sekolah hingga berbulan-bulan. Di saat bersamaan, ada sesosok malaikat yang berwujud manusia yang dengan ikhlasnya membantuku melunasi seluruh tunggakan. Tidak ada kata yang lebih tepat selain terima kasih yang bisa ku ucapkan saat itu.

Saat itu, aku juga dianggap tidak dapat bersaing dengan teman-teman sekelas. Hingga wajar jika guru beberapa kali menganugerahkan ranking penutup untukku. Guru-guru tidak bisa berbuat banyak untuk membantuku karena memang tidak ada yang yang menonjol dari bocah di usiaku saat itu.

Baca juga: Lulus SMP, Mau Lanjut Kemana?

2010

Delapan tahun yang lalu, aku harus mengubur mimpi untuk bisa sekolah di sekolah menengah atas pilihanku. Tak ada yang bisa kulakukan atau tawarkan saat itu. Akademik yang biasa-biasa saja, finansial yang pas-pasan, kemampuan olahraga juga tak ada. Cukuplah aku dengan mimpi-mimpiku yang terkubur bersama diriku yang tidak berjuang.

Gagal masuk sekolah favorit, aku kembali harus menelan pil pahit karena tidak bisa masuk ke kelas akselerasi. Lagi-lagi tak ada alasan kuat untukku bisa diterima di kelas eksklusif tersebut jika dibandingkan teman-temanku yang lain. Mau menyogok dengan uang atau barang-barang mahal pun tak mungkin. Jika ada cara ‘solidaritas’ pun rasanya aku tidak akan layak untuk masuk. Singkatnya, tidak ada daya tarik dari seorang sepertiku.

Baca juga: Usaha Keras Tidak Akan Mengkhianati

2013

Lima tahun yang lalu, aku seperti berada di titik terendah di hidupku. Aku merasa aku sudah melakukan yang terbaik agar semesta menjawab pintaku. Aku seketika menjadi orang yang tak punya semangat hidup lagi. Padahal, aku sudah sangat yakin jikalau menjadi seorang dokter di sebuah perguruan tinggi negeri ternama adalah masa depanku. Namun kenyataannya adalah tidak.

Tidak berselang lama, Tuhan seperti memberikan jawaban atas tanda tanya besar yang bersarang di kepalaku. Ketidakadilan yang aku rasakan rupanya tak beralasan. Sebab usahaku tidaklah lebih besar dibanding usaha orang-orang kebanyakan. Sebab niatku tidaklah lebih mulia dibanding niat orang-orang kebanyakan yang ingin mengabdi untuk masyarakat.

Baca juga: Kalau Gagal Jadi Mahasiwa, Lantas Harus Ngapain?

2014

Empat tahun yang lalu, aku resmi menyandang status sebagai mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi yang cukup prestisius di Indonesia dengan beasiswa penuh. Aku masih belum bisa benar-benar percaya bahwa ini adalah nyata. Pun sampai saat ini, memori masa anak-anak dari pelosok kalimantan masih kucoba untuk kuputar. Walau tak sepenuhnya bahagia, tapi aku sudah sepenuhnya percaya bahwa ini adalah skenario terbaik yang diberikan Tuhan untukku.

Baca juga: Ngapain Jadi Arsitek

2017

Satu tahun yang lalu, lagi-lagi Tuhan mengejutkanku dengan diberikannya kesempatan untukku menimba ilmu di Benua Biru Eropa. Sebuah mimpi yang aku idam-idamkan dulu ternyata baru dikabulkan tiga tahun setelahnya. Ada banyak hal yang aku pelajari selama hidup di luar negeri, disiplin waktu, komunikasi, bahasa baru, bertemu orang-orang menginspirasi hingga jalan-jalan mencari perspektif baru tentang suatu hal.

Saat itu juga, aku mengambil keputusan untuk lulus lebih lama ketimbang teman-temanku yang lain. Keputusan ini jujur tidak mudah. Ada banyak pertimbangan yang saat itu aku pikirkan. Perihal beasiswa, perihal keluarga, tidak lupa perihal tujuan hidupku kelak.

Sama sekali tidak ada penyeselan. Dengan statusku yang masih mahasiswa, aku punya banyak kesempatan untuk lebih mengeksplor diri dan berkontribusi.

Baca juga: Jejak Kaki Pertama di Benua Biru

 

 

Aku tidak menyesal karena dilahirkan di desa kecil di pulau kalimantan

Aku tidak menyesal karena tidak mendapatkan ilmu terbaik dari sekolah terbaik

Aku bersyukur karena diberikan kekuatan untuk bangkit ketika gagal

Aku bersyukur karena diberikan kesempatan untuk terus berusaha

Aku bersyukur karena terus diberikan kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri

 

If you think that your life sucks, be grateful and take action

Thank you 2018! I owe you something.

Comment on “My Life in a Nutshell”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.