Review GoMassage Pertama Yang Lebih Dari Sekadar Pijatan

Kepindahan saya ke Jakarta untuk bekerja membuat ritme aktivitas saya berbeda pula. Dari yang sehabis sidang Tugas Akhir sampai menunggu wisuda hanya uring-uringan dan nyambi melamar pekerjaan, kini sudah memiliki mobilitas rutin. Senin-Jumat dari pukul 8.00-17.00 saya habiskan di kantor. Sehingga waktu setelahnya hanya cukup untuk dibuat tidur tanpa ada aktivitas lain. Terkecuali untuk weekend di Sabtu dan Minggunya.

Nah, di akhir pekan ketiga saya di Jakarta ini, tiba-tiba saja terlintas pikiran untuk melakukan sesuatu yang baru yakni pijat refleksi. Hehe. Dulu, ketika masih di Surabaya, kira-kira dua bulan sekali saya rutin ke tempat pijat refleksi. Tapi di sini kok rasanya belum ketemu yang cocok, karena juga masih adaptasi dengan semuanya. Beruntung, Gojek sebagai perusahaan karya anak bangsa punya solusi untuk seorang pendatang baru di Jakarta layaknya saya ini.

Perlu diketahui, GoMassage ini letaknya terpisah dari aplikasi utama Go-jek. Jadi untuk menikmati layanan GoMassage, kita harus terlebih dahulu mengunduh aplikasi GoLife yang sudah tersedia gratis di Google Play dan App Store.

Kebetulan, saya sudah mengunduh aplikasi GoLife ini sejak lama, cuman belum pernah digunakan. Karena memang kebutuhannya belum semendesak layanan-layanan Gojek lain. Tapi karena ini juga, rasa penasaran saya makin menjadi-jadi. Ditambah ketika saya mendapati ada voucher diskon 50% untuk pengguna baru.

Ketika saya putuskan memilih layanan GoMassage, ternyata ada beberapa jenis pijatan yang ditawarkan. Seperti body rejuvenation, reflexology, beauty massage, dll. Nah berhubung permasalahan saya adalah badan yang pegel-pegel, body rejuvenation inilah pilihan yang tepat.

Setelah menentukan jenis pijatan, saya diminta untuk memasukan waktu pemijatan, durasi pijat, preferensi gender pemijat, dan alamat dimana pemijatan akan dilakukan. Ga butuh waktu lama, sistem pun otomatis mencarikan seorang terapis dari ribuan mitra yang tergabung di GoMassage, hingga munculah nama Karji. Dari aplikasi GoLife, rupanya kita bisa memantau progres dari bookingan kita ini. Dari mulai identitas terapis, posisi dan jadwal ketibaan, sampai proses pijatnya selesai.

Janjian pukul 10.00 WIB, ternyata mas Karji ini sudah berangkat pukul 09.30 WIB dari rumahnya di daerah kelapa gading. Gak heran jika masnya ini bisa datang tepat waktu sesuai yang dijanjikan. #NoTelat

Awalnya agak awkard sedikit karena selain ini pengalaman pertama memesan layanan GoMassage, ini juga pertama kalinya saya bawa orang asing ke kamar kos yang baru. XD Perasaan takut, atau parno sedikit wajar, tapi yang perlu dicatat adalah pihak GoLife menjamin kualitas serta keamanan layanan yang merupakan bagian dari GoLife Happiness Guarantee Program. Selain jaminan itu, saya juga percaya dengan mas Karji ini karena pribadinya yang super ramah dan sopan.

Bagaimana kualitas pijatannya?

Sekilas, review GoMassage ini tidak ada yang berbeda dengan layanan pijatan pada umumnya. Pijatan full body yang saya pesan seharga Rp.55.000 ini meliputi kaki, punggung, tangan, leher, hingga kepala. Bisa dibilang, GoMassage ini sudah lebih dari cukup untuk merilekskan otot dan sendi-sendi yang kaku setelah seminggu penuh bekerja.

Tampilan Aplikasi GoLife saya untuk GoMassage Setelah Sesi Pijat Selesai

Menurut saya, bagian terbaik dari pijatan GoMassage ini adalah ketika pijatan sampai ke kepala saya. Seketika jadi teringat belasan tahun yang lalu sepulang sekolah. Ketika tidur siang ada ibu yang memangku dan tidak bosan-bosannya memijat kepala saya, serta sesekali dapat kutu rambut kalau beruntung hehe. Tapi sekarang sudah gak pernah lagi karena faktor usia dan jarak sebagai seorang perantau di Ibukota.

Sebagai seorang terapis, Mas Karji ini ternyata sudah banyak makan garam. Lahir di Blora, ia memberanikan diri untuk merantau ke Surabaya sebelum akhirnya ke Jakarta untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

“Dulu beberapa kali sempat menetap di sebuah tempat terapi, tapi akhirnya memilih sendiri aja mas,” tuturnya. Selain masalah pendapatan, fleksibilitas juga menjadi pertimbangannya keluar dari tempat terapi.

“Tapi kalau rejeki mah ga kemana,” kata mas Karji, yang menurutnya, setiap hari ada saja customer yang dilayaninya untuk GoMassage. Kalau kerja dengan sungguh-sungguh, tidak ada tujuan yang tidak mungkin untuk dicapai.

Waktu rasanya cepat berlalu, tepat pukul 11.00 WIB mas nya bilang kalau sesi pijatnya sudah selesai. Tidak banyak yang kami bicarakan, tapi tentu ada nilai-nilai positif yang bisa dipetik dari perjuangan mas Karji ini, di antaranya kesabaran, ketekunan dalam bekerja serta rasa syukur, yang semuanya #PastiAdaJalan.

GoLife ternyata punya paket langganan yang bikin GoMassage bisa lebih murah

Saya rasa, layanan GoMassage dari GoLife ini tidak hanya memberikan jasa pijat dengan tarifnya yang terjangkau. Tapi juga memberikan ketenangan, kenyamanan, hingga kesan yang hangat layaknya tukang pijat panggilan yang dahulu menjadi langganan di kampung saya. Dibandingkan kemewahan dan estetisnya pusat pijat refleksi di luaran, GoMassage punya nilai intangible lebih yang patut dibanggakan.

Ini review GoMassage saya, kalau kamu?

3 opinions on “Review GoMassage Pertama Yang Lebih Dari Sekadar Pijatan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.