Kemenangan Kecil di Hari Natal

Tubuhku rasanya sudah sepenuhnya melekat dengan kasur. Hawa dingin pun tidak segan menusuk kulit yang kemudian menjalar cepat dari ujung kaki hingga sampai ke otak tatkala selimut tak sengaja tersingkap sedikit. Pikiranku berulangkali bersikeras memaksaku agar tak perlu beranjak dari selimut. Namun di sisi lain, aku sudah berjanji agar hari ini harus bisa berbeda dari hari-hari biasanya.
Gejolak batin di pagi buta yang dingin ini ternyata bisa kumenangkan. Aku pun berhasil menyingkap selimut menjauh dari badanku, bergegas ke kamar mandi lalu mengambil wudhu untuk menunaikan sholat. Kendati waktu masih menunjukkan Pukul 6.30, tak ada secercah cahaya pun yang menyelinap dari tirai jendela kamar mandi yang kuangkat sedikit itu. Gelap masih mendominasi kota.
Bisa dibilang, pagi ini adalah pagi terdingin yang pernah ku alami selama hampir tiga bulan tinggal di sini. Entah apa penyebabnya, suhu mendadak anjlok ke 2 derajat celcius yang dibarengi dengan hembusan angin super kencang. Tidak heran, weather forecast pun sepakat kalau “It feels like -4” alih-alih hanya 2 derajat saja sesuai yang tertera di layar.
Wudhu sudah kuambil, akupun bergegas kembali masuk ke kamar. Beberapa kali, jendela kamarku serasa sedang digedor oleh seseorang tak ku kenal. Yang usut punya usut ternyata hanya deru angin yang hembusannya teramat kuat itu.
Selepas sholat, aku langsung kembali ke kasur, memakai kaos kaki, dan bertutupkan selimut. Tak berapa lama, matahari mulai menyeruak dari balik tirai jendela berwarna hitam pekat yang baru dipasang dua minggu yang lalu ini. Juga berbeda dengan biasanya, kendati lebih dingin, pagi ini aku bisa melihat dengan jelas sinar matahari yang perlahan muncul tanpa dibarengi awan kelabu sama sekali. Alhamdulillah, langitnya biru cerah!
After weeks of gloominess, it’s finally sunny in christmas day!
Lamunanku dipecah oleh suara alarm sebagai pengingat kalau hari ini aku punya agenda yang sudah lama aku rencanakan. Sebagai seseorang yang tidak ikut merayakan Natal, tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain mengikuti agenda di hari ini. Sebab, seluruh toko, gym, dan tempat hiburan sepakat untuk beramai-ramai berhenti beroperasi hari ini.
One thing that I have committed to do is to join the Christmas Park Run 2025.
Jadi Park Run ini adalah sebuah komunitas lari non-profit yang punya banyak anggota dan volunteer dimana mereka secara rutin lari 5K setiap minggunya. Nah di hari-hari khusus contohnya Natal, ada agenda lari tambahan, jadi bisa dibilang ada dua agenda lari di minggu ini.
Di kotaku sendiri, ada dua cabang Park Run yakni Bath Skyline Park dan Brickfields Park. Berhubung aku masih pemula, Brickfileds Park Run ini aku dengar lebih ramah terhadap orang-orang sepertiku yang belum memiliki sepak terjang lari di perbukitan ekstrim ataupun jalur yang menanjak.
Aku bergegas menanggalkan pakaian tidur dan menggantinya dengan pakaian yang lebih ramah untuk lari. Biasanya, di beberapa agenda lariku di sini dengan rekan-rekan di kantor, aku cukup mengenakan celana pendek dan kaos saja. Tapi di pagi ini, aku tidak begitu yakin dengan daya tahan tubuhku akan suhu yang cukup ekstrim di musim dingin ini. Akhirnya, aku mantap mengenakan long john extra warm yang kulapis dengan celana lari. Pun dengan atasannya, kaos khas musim panasku ini kulapis dengan windproof jacket tipis dari uniqlo yang biasa kupakai menangkal debu di Jakarta.

Waktu sudah menunjukkan Pukul 08.20, aku pun meninggalkan flat dan dengan cepat memacu lariku agar bisa menangkal hawa dingin di luar. Jika sesuai prediksi Google Map, jarak dari flat-ku ke Brickfields Park ini hanya memakan waktu 40 menit dengan berjalan kaki. Namun berhubung aku kesana dengan berlari, harusnya aku bisa sampai sebelum Pukul 09.00, waktu di mana event larinya akan resmi dimulai.
Sepanjang perjalanan, aku masih tidak menemukan siapapun. Kota ini rasanya seperti kota mati. Toko-toko tutup, transportasi umum pun tidak beroperasi, dan orang-orang sepertinya masih berdiam di rumah sambil menghabiskan waktu libur bersama keluarga. Yang menemaniku hanya kumpulan burung yang tak ku tahu jenisnya, namun silih berganti menyapaku dengan kicauannya,
Walaupun dingin, Alhamdulillah-nya, tubuhku tidak terlalu memberontak. Aku cukup menikmati birunya langit dan angin yang sesekali seperti menampar wajahku lalu membuatnya serasa mati rasa. Tak ada alunan musik juga yang menempel di kupingku hari ini. Pikiranku pun cukup bisa diajak kompromi untuk lebih mindful and present menikmati momen yang ada.

Sesampaikan di titik kumpul, rupanya sudah banyak orang-orang dengan outfit dan aksesories khas natal yang juga meramaikan event lari ini. Mulai dari remaja, orang dewasa, anak-anak, hingga mereka yang membawa binatang peliharannnya pun tidak ikut ketinggalan. Meski tidak ada satupun yang ku kenal, but it’s nice to see people celebrating their special day today! Senyum hangat mereka seolah memancarkan energi kepadaku yang bukan siapa-siapa ini.
Another fun fact, ini juga kali pertama aku mengikuti Park Run! Campur aduk rasanya. Ada ketakutan akan tidak mampu menyelesaikan lari karena rutenya cukup menanjak di perbukitan hingga karena ketiadaan semangat eksternal yang harusnya jadi sumber energi tambahan. But then I remembered something, it happened for a reason. The past couple of weeks have been a mess to be honest.
Pukul 09.05 agenda lari pun resmi dimulai.
Banyak sorak-sorai dari para relawan Park Run yang tidak henti-hentinya membakar semangat para pelari. Ada pula para marshal, pacer, hingga warga sekitar yang turut menambah ramainya jalanan. Walaupun dingin, 2K pertama rasanya cukup sulit untuk aku selesaikan. Belum lagi ketika menyaksikan betapa cepatnya orang-orang di sini dalam berlari. Tubuh mereka yang tinggi dengan kaki jenjang turut membuat saya jauh ketinggalan di belakang. Belum lagi menyoal perbedaan daily nutrition intake.

“Tapi, bukankah garis finish adalah tujuannya?” batinku.
Tidak perlu rasanya membandingkan diri ke orang lain. Sebab, dengan aku berada di kegiatan ini pun sudah merupakan kemenangan kecil dari hasil pergulatan batin dan mental ku di pagi ini.
Tepat di menit 36 lewat 34 detik, aku berhasil mencapai garis finish bersama beberapa wanita paruh baya. Seingatku, semua laki-laki yang seusia dan yang di bawahku mayoritas sudah merampungkan 5K-nya. Tidak heran, jika di akhir aku hanya bisa bertengger di peringkat 201 dari 223 pelari.
Aku sempat bertukar sapa dengan salah seorang pelari dengan kondisi nafas masih terengah-engah sesaat setelah mencapai garis finish.
“Look at you, you did it” ucapnya.
“Thanks, this is my first park run by the way”
“Woah, you should do it again next week, cheers mate!”
Kita sama-sama beranjak pulang, namun bedanya ia pulang dengan menggandeng tangan istrinya yang juga turut serta berlari di pagi itu. Sedang aku hanya bisa memeluk erat diri sendiri agar dinginnya tak terlalu menusuk badanku yang mungil ini.
Banyak pelajaran yang ku dapatkan dari kegiatan ini. Namun, yang paling membekas adalah kenyataan bahwa tidak satu pun pelari gagal menyelesaikan rutenya. Dengan segala keterbatasan usia, bentuk tubuh, gaya hidup, hingga pengalaman, mereka tetap menepati janji pada diri sendiri untuk tidak menyerah dengan apapun yang terjadi.
Aku sendiri bukan pelari berpengalaman. Bahkan, bisa dibilang aku baru mulai aktif berlari pada tahun 2025, tepat setelah lulus kuliah di bulan Agustus lalu dengan jumlah lari yang bisa dihitung jari. Awalnya, lari hanyalah alternatif olahraga yang murah karena aku tidak bisa berlangganan gym saat masih ngekos di Jakarta.
Dari beberapa kali mencoba lari, aku menyadari bahwa tantangan terbesar dalam berlari bukanlah soal tenaga, melainkan pertarungan dengan mental sendiri. Keinginan untuk menyerah berkali-kali muncul, tetapi berkali-kali pula aku meyakinkan diri bahwa aku pasti mampu menyelesaikannya. Dan nyatanya, I proved that I can push myself to the limit.
Dalam perjalanan pulang menuju flat, jalanan masih lengang, tanpa satu pun orang atau kendaraan yang melintas. Tubuh ini tak lagi digelayuti dingin yang menusuk. Badanku seolah telah masuk mode hangat secara otomatis pasca lari di sepanjang perjalanan.
Langkah kakiku kini pulang dengan perasaan bangga karena tidak menyerah pada godaan kasur dan selimut yang hangat di rumah.
It’s indeed a small win to win other things and I’ll definitely do this again!


